Primary tabs

Demensia pada Lansia

Demensia atau pikun sering dianggap sebagai sesuatu yang normal pada lansia. Proses penuaan memang menyebabkan penurunan pada beberapa sistem tubuh termasuk otak. Proses penuaan otak normal tidak sampai menyebabkan gangguan fungsi dan penurunan kemampuan berpikir.

Demensia adalah penurunan fungsi daya ingat dan berpikir yang berlangsung kronik dan progresif sehingga menyebabkan gangguan fungsi aktivitas sehari-hari.

Demensia adalah kumpulan penyakit dengan gejala yang mengakibatkan perubahan cara bepikir dan berinteraksi dengan orang lain. Biasanya orang dengan demesia akan mengalami gangguan memori jangka pendek, pikiran, kemampuan berbicara dan kemampuan motorik.   

Seperti dikutip dari kemkes.go.id, penurunan fungsi pikir biasanya disertai dengan kemunduran pengendalian emosi dan perilaku sosial. Hal ini menyebabkan demensia sebagai penyebab utama hilangnya kemandirian pada lansia. Penyakit alzheimer penyebab utama demensia, mencakup 60-70 kasus, sisanya disebabkan oleh stroke (demensia vaskular) atau penyakit lain pada otak.

Demensia dapat terjadi pada segala rentang usia, namun pada umumnya pada usia >60 tahun. Tanda Gejala Demensia menurut tahapannya:

1.    Tahap awal

-    Mudah lupa

-    Lupa waktu

-    Tersesat di tempat yang sudah familiar

2.    Tahap menengah

-    Lupa peristiwa yang baru terjadi dan nama orang

-    Tersesat di rumah sendiri

-    Semakin sulit berkomunikasi

-    Perlu bantuan merawat diri

-    Mengalami perubahan perilaku, termasuk menanya berulang atau berjalan tanpa tujuan

3.    Tahap lanjut

-    Tidak mengenal waktu dan tempat

-    Sulit mengenali kerabat dan teman

-    Semakin perlu dibantu untuk merawat diri

-    Sulit berjalan

-    Mengalami perubahan perilaku yang semakin meningkat, termasuk agresi

 

Faktor risiko demensia. 

  • Usia

Demensia umumnya terjadi pada orang yang berusia di atas 65 tahun. Risiko demensia meningkat secara signifikan seiring dengan bertambahnya usia. 

  • Riwayat kesehatan keluarga

Orang yang memiliki riwayat kesehatan keluarga  yang pernah menderita demensia memiliki faktor risiko yang lebih besar. 

  • Jenis kelamin

Demensia lebih sering terjadi pada wanita, sebagian besar terjadi karena wanita hidup lebih lama daripada pria. 

  • Gaya hidup

Orang yang menderita tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tinggi atau diabetes, dll, memiliki faktor risiko yang lebih tinggi terkena demensia jika mereka tidak mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan kondisi kesehatan mereka.

  • Gangguan kognitif

Orang dengan gangguan kognitif karena berbagai macam gangguan atau faktor lainnya memiliki faktor risiko yang lebih tinggi terkena demensia di tahun-tahun selanjutnya.

  • Tingkat pendidikan

Penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah memiliki faktor risiko yang lebih tinggi terkena demensia. Mungkin saja orang yang berpendidikan tinggi melakukan lebih banyak latihan mental, yang melindungi otak mereka dari proses degenerasi.

 

Penyebab demensia
Demensia dapat terjadi melibatkan kerusakan pada sel- sel saraf di otak pada beberapa area di otak. Gangguan ini dapat muncul dalam bentuk yang berbeda- beda pada tiap penderita, tergantung area otak yang terkena. Selain karena kerusakan sel-sel saraf di otak, demensia juga dapat terjadi akibat kerusakan otak yang disebabkan karena berkurangnya aliran darah di dalam pembuluh darah otak. Masalah pada pembuluh darah ini bisa terjadi karena banyak hal.

Beberapa masalah pada pembuluh darah di antaranya adalah stroke, infeksi katup jantung, atau kondisi lain pada pembuluh darah. Gejala biasanya muncul mendadak dan seringkali didapatkan pada orang-orang dengan tekanan darah tinggi atau yang pernah mengalami stroke atau serangan jantung sebelumnya.

Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan demensia yaitu: intoksikasi (obat, termasuk alkohol), infeksi susunan saraf pusat, gangguan metabolik, gangguan gizi, gangguan vesikuler ( demensia nulti-infark), lesi desak ruang, hidrosefalus bertekanan normal, depresi (pseudo-dementia defrensif), penyakit degeneratif progresif seperti alzheimer, parkinson.

 

Bagaimana gejala awal demensia?

Berikut ini adalah gejala-gejala awal demensia pada lansia yang perlu diwaspadai:

1. Kesulitan Mengingat dalam Jangka Pendek

Lansia yang mengalami demensia akan lebih sulit mengingat menu sarapan pagi hari ini, ketimbang pengalaman di masa sekolah dulu. Gangguan ingatan jangka pendek ini juga meliputi sering lupa menaruh barang, lupa yang harus mereka lakukan pada hari tertentu, dan tidak ingat alasan memasuki ruangan tertentu.

2. Kesulitan Meningat Kata-kata yang Tepat

Gejala awal demensia lansia yang lain adalah kesulitan berkomunikasi. Mereka sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan diri.

3. Perubahan Mood

Suasana hati yang naik-turun sangat lumrah terjadi para lansia yang mengalami demensia. Depresi pun menjadi gejala awal demensia.

4. Apatis

Lansia yang tampak cuek atau lesu, juga dapat menjadi penanda awal demensia. Jika lansia kehilangan minat untuk bersosialisasi, tampak datar secara emosional, atau sering menyendiri, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.

5. Kesulitan Menyelesaikan Tugas-tugas Sederhana

Menurunnya kemampuan otak dalam memecahkan masalah atau kesulitan, dapat pula muncul sebagai gejala demensia lansia awal. Misalnya, mengalami kesulitan dalam bermain game atau puzzle. Untuk itu, lansia harus terus diajak bergerak aktif dan mengasah kemampuan daya pikir otak. Contohnya, berolahraga catur atau bermain teka-teki silang.

6. Kesulitan Mengenali Arah

Lansia yang mengalami demensia terkadang sangat mudah tersesat di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka tidak mengingat arah menuju rumah, bahkan bangunan yang pernah dikenalnya.

7. Melakukan Tugas Berulang-ulang dalam Sehari

Pengulangan sering terjadi pada demensia lansia. Kondisi ini disebabkan oleh hilangnya memori untuk mengingat perilaku secara umum.Lansia dapat mengulangi tugas yang sama dalam satu hari berulang kali. Misalnya, bercukur, makan, mandi, beribadah, dan sebagainya. Mereka juga kerap mengumpulkan barang-barang secara berlebihan.Ada kalanya, demensia lansia juga mengulang pertanyaan yang sama saat berbincang, meskipun pertanyaan tersebut sudah pernah dijawab.

8. Kesulitan Beradaptasi dengan Perubahan

Bagi lansia yang mengalami demensia tahap awal, pengalaman kesulitan mengingat akan memicu rasa takut. Mereka tiba-tiba tidak bisa mengingat nama anggota keluarga atau sering tersesat ketika keluar rumah. Oleh sebab itu, lansia yang mengalami demensia terkadang menjadi takut mencoba hal baru dan sulit beradaptasi dengan perubahan.Bantu penderita demensia lansia untuk mengatasi masa-masa sulit dalam hidup mereka dengan mendeteksi dan mengenali gejala awal demensia sejak dini.

Bagaimana cara merawat orang dengan demensia?

Cara merawat orang dengan demensia adalah sebagai berikut:

1.    Berperan aktif dalam:

  • Mengobati penyakitnya (tekanan darah tinggi, penyakit parkinson/gemetar karena sakit)
  • Menghindari pemakaian obat yang mempunyai efek samping pada otak dan menghindari situasi yang menekan mental
  • Mengkaji keadaan lingkungan
  • Meningkatkan perbaikan gizi

2.    Mengenali dan mengobati keadaan yang memperberat penyakit

  • Perilaku merusak
  • Gangguan perilaku
  • Perasaan tertekan  atau depresi
  • Inkontinesia (tidak mampu menahan buang air)

3.    Mengupayakan informasi kesehatan bagi penderita dan keluarga

  • Berbagai masalah tentang penyakitnya
  • Kemungkinan kelainan atas gangguan yang terjadi
  • Dugaan sementara terjadinya demensia

4.    Upaya nasehat keluarga

  • Berbagai pelayanan kesehatan masyarakat seperti layanan daycare psikogeriatri
  • Nasehat hukum atau keuangan
  • Pengenalan cara mengatasi konflik keluarga
  • Penanganan rasa marah atau bersalah

Keluarga dengan kegiatan yang dinamis kerap mengalami kesulitan saat mendampingi Orang Dengan Demensia (ODD). Dibutuhkan dedikasi yang utuh untuk dapat mendampingi ODD. Layanan daycare psikogeritari dapat menjadi pilihan bagi keluarga untuk menjaga kualitas hidup lansia dan keluarga.

Pencegahan demensia

Pencegahan demensia cukup sulit untuk dilakukan. Meski demikian, ada beberapa langkah yang mungkin dapat membantu:

  • Biasakan agar pikiran aktif.

Aktivitas aktivitas yang dapat merangsang otak, seperti puzzle dan permainan kata kata serta latihan daya ingat yang dapat memperlambat dan membantu mengurangi munculnya demensia.

  • Aktiflah secara fisik maupun sosial

Aktivitas fisik dan interaksi sosial dapat memperlambat munculnya demensia dan mengurangi gejala -gejalanya

  • Stop merokok

Beberapa studi menunjukkan bahwa merokok pada usia pertengahan dan lebih tua dapat meningkatkan risiko pikun atau demensia dan penyakit pembuluh darah. Berhenti merokok dapat mengurangi risiko tersebut

  • Turunkan tekanan darah

Tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko beberapa tipe demensia

  • Kejarlah pendidikan

Orang- orang yang menghabiskan lebih banyak waktu dalam pendidikan formal memiliki angka kejadian penurunan mental yang lebih rendah, walaupun mereka mempunyai kelainan otak.

  • Pertahankan diet sehat

Memakan makanan sehat sangatlah penting untuk berbagai alasan. Makanan kaya akan buah, sayuran, dan asam lemak omega-3 yang banyak didapat dari ikan dan kacang, bermanfaat menunjang kesehatan secara keseluruhan dan menurunkan risiko terjadinya pikun atau demensia.

 

Penulis: 
Juwita, S. Kep., Ners
Sumber: 
Sumarni Nina

Artikel

15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
04/12/2020 | Ns. MUSTIKAWATI, SKep
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep