Primary tabs

Mengenal Penyebab Halusinasi dan Jenisnya

Halusinasi adalah gangguan persepsi yang membuat seseorang mendengar, merasa, mencium aroma, dan melihat sesuatu yang kenyataannya tidak ada. Pada keadaan tertentu, halusinasi dapat mengakibatkan ancaman pada diri sendiri dan orang lain.

Halusinasi adalah sensasi yang diciptakan oleh pikiran seseorang tanpa adanya sumber yang nyata. Gangguan ini dapat memengaruhi kelima panca indera. Seseorang disebut berhalusinasi ketika dia melihat, mendengar, merasa, atau mencium suatu aroma yang sebenarnya tidak ada. Hal-hal ini hanya ada di dalam pikiran mereka. Penderita gangguan halusinasi seringkali memiliki keyakinan kuat bahwa apa yang mereka alami adalah persepsi yang nyata sehingga tak jarang menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang memiliki halusinasi juga mungkin bisa memiliki perilaku menyimpang.

Stuart & Sundenn (1998)
Halusinasi adalah gangguan penyerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat individu sadar dengan baik.

Townsend (2002)
Halusinasi, atau salah persepsi indrawi yang tidak berhubungan dengan stimulus eksternal yang nyata, mungkin melibatkan salah satu dari lima indra.

 

Penyebab Munculnya Halusinasi

Halusinasi dapat muncul akibat berbagai faktor. Berikut adalah beberapa penyebab terjadinya halusinasi yang paling umum:

  • Gangguan kejiwaan, seperti skizofrenia, demensia, dan depresi berat dengan gejala psikosis. Psikosis adalah kumpulan gejala gangguan mental di mana seseorang merasa terpisah dari kenyataan yang sebenarnya, ditandai dengan gangguan emosional dan pikiran. Penderita psikosis akan sulit membedakan hal yang nyata dan tidak.
  • Gangguan saraf dan otak, seperti penyakit Parkinson, migrain dengan aura, delirium, stroke, epilepsi, dan penyakit Alzheimer.
  • Terlalu banyak mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, seperti kokain, amfetamin, heroin dan obat psikedelik.
  • Demam pada anak kecil atau pada lanjut usia.
  • Gangguan tidur, seperti narkolepsi.
  • Penyakit berat, seperti gagal ginjal atau gangguan hati stadium lanjut, HIV/AIDS, kanker otak.
  • Cedera kepala berat.
  • Gangguan elektrolit, misalnya rendahnya kadar natrium darah (hiponatremia) dan rendahnya kadar magnesium (hipomagenesemia).
  • Kelainan asam basa, seperti pada kondisi asidosis.
  • Efek samping obat-obatan.
  • Gangguan tidur
  • Borderline personality disorder
  • Post-traumatic stress disord

 

 

Berbagai Jenis Halusinasi yang Perlu Anda Ketahui

Berdasarkan ciri-ciri dan penyebabnya, jenis halusinasi yang umum terjadi adalah sebagai berikut:

  • Halusinasi pendengaran (audio)
    Halusinasi pendengaran adalah jenis halusinasi yang paling umum terjadi, yang menyebabkan seseorang mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain. Anda mungkin mendengar seseorang berbicara kepada Anda atau memberi tahu Anda untuk melakukan hal-hal tertentu. Suara itu bisa berupa suara marah, suara netral, suara mesra, suara lantunan musik, percakapan, tawa, bahkan langkah kaki seseorang. Misalnya, Anda seolah mendengar seseorang sedang berjalan di loteng, padahal tidak ada siapa-siapa di loteng. Kondisi ini adalah gejala yang biasa terjadi pada skizofrenia, gangguan bipolar, atau demensia.
  • Halusinasi penglihatan (visual)
    Halusinasi visual melibatkan indera penglihatan, seolah seperti melihat sesuatu namun benda tersebut sebenarnya tidak ada. Halusinasi visual bisa melihat berupa suatu objek, pola visual, manusia, atau cahaya. Misalnya, Anda mungkin melihat seseorang yang sebenarnya tidak berada di ruangan, atau melihat lampu berkedip yang tidak dapat dilihat orang lain.
  • Halusinasi penciuman (olfaktorik)
    Halusinasi penciuman melibatkan indera penciuman. Seseorang mungkin mencium aroma wewangian atau justru bau yang tidak sedap atau merasa bahwa tubuhnya berbau busuk padahal nyatanya tidak.
  • Halusinasi pengecapan (gustatorik)
    Halusinasi pengecapan melibatkan indra perasa yang menyebabkan seseorang merasakan sensasi bahwa sesuatu yang dimakan atau diminum memiliki rasa yang aneh. Misalnya, seseorang mengeluh karena merasakan atau mengecap rasa logam secara terus-menerus. Jenis halusinasi ini merupakan salah satu gejala yang sering terjadi pada penderita epilepsi.
  • Halusinasi sentuhan (taktil)
    Halusinasi taktil melibatkan perasaan sentuhan atau gerakan di tubuh Anda. Misalnya, Anda merasa seolah disentuh atau digelitik seseorang, padahal tidak ada orang lain di sekitar Anda. Anda mungkin merasa bahwa ada serangga yang sedang merayap di kulit atau di organ-organ dalam tubuh Anda, atau merasa seolah ada semburan api yang membakar wajah Anda.

Selain karena kondisi berat di mana halusinasi seringkali menetap, ada juga halusinasi sementara yang tidak bersifat kronis. Misalnya, halusinasi yang mungkin Anda alami ketika salah satu anggota keluarga baru saja meninggal dunia. Anda mungkin mendengar suara orang itu sejenak atau sekilas melihatnya. Jenis halusinasi ini biasanya akan menghilang ketika duka kehilangan secara perlahan memudar. Terkadang, halusinasi juga bisa terjadi ketika seseorang mengalami fenomena ketindihan (sleep paralysis).

Gangguan halusinasi merupakan kondisi medis serius yang perlu segera mendapat pemeriksaan dan penanganan psikiater. Selain perlu segera berkonsultasi ke psikiater, penderita gangguan halusinasi tidak disarankan tinggal atau bepergian sendiri. Dengan penanganan yang tepat dan sedini mungkin (misalnya pemberian obat-obatan dan psikoterapi), halusinasi diharapkan dapat segera teratasi agar tidak sampai membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Gejala Halusinasi

Gejala halusinasi dapat dibedakan menurut jenisnya, yaitu:

  • Halusinasi penglihatan
    Penderita halusinasi penglihatan akan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Objek yang dilihat bisa manusia, benda, atau cahaya.
  • Halusinasi pendengaran
    Penderita halusinasi pendengaran akan mendengar suara, perintah, atau ancaman yang sebenarnya tidak ada.
  • Halusinasi penciuman
    Penderita halusinasi penciuman akan mencium bau harum atau bau yang tidak sedap, padahal bau tersebut sebenarnya tidak ada.
  • Halusinasi pengecapan
    Penderita halusinasi jenis ini akan mengecap rasa yang aneh, misalnya rasa logam, pada makanan atau minuman yang ia konsumsi, padahal rasa tersebut sebenarnya tidak ada.
  • Halusinasi sentuhan
    Penderita merasa seakan-akan ada seseorang yang meraba atau menyentuhnya, atau merasa seperti ada hewan yang merayap di kulitnya, padahal sebenarnya tidak ada.
  • Halusinasi kinestik

Kondisi merasa badan bergerak dalam sebuah ruang atau anggota badannya bergerak

 

Tahapan Halusinasi

Ada beberapa tahapan halusinasi yakni :

  • Sleep Disorder : Adalah tahap awal halusinasi seseorang sebelum muncul halusinasi.

Karakteristik : klien merasa banyak masalah, berusaha menghindar dari lingkungan, takut diketahui orang lain jika dirinya memiliki banyak masalah. Masalah semakin terasa sulit karena berbagai stressor terakumulasi dan support syistem kurang dan persepsi terhadap masalah sangat buruk.

Perilaku : klien mengalami susah tidur dan berlangsung terus menerus sehingga terbiasa menghayal dan menganggap menghayal awal sebagai pemecah masalah.

  • Comforthing : adalah tahap halusinasi menyenangkan.

Karakteristik : klien mengalami perasaan mendalam seperti cemas, kesepian, rasa bersalah, takut, dan mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan kecemasan. Klien cenderung mengenali bahwa pikiran-pikiran dan pengalaman sensori berada dalam kendali kesadaran jika cemas dapat ditangani.

Perilaku : klien terkadang tersenyum, tertawa sendiri, menggerakan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon verbal lambat, diam dan berkonsentrasi.

  • Condemning : adalah tahap halusinasi menjadi menjijikan (cemas berat)

Karakteristik : klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak diri dengan sumber yang dipersepsikan. Klien mungkin merasa dipermalukan oleh pengalaman sensori dan menarik diri daro orang lain.

Perilaku : tahap ini ditandai dengan meningkatnya tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas otonom seperti peningkatan denyut jantung, pernafasan, dan tekanan darah. Rentang perhatian dengan lingkungan berkurang dan terkadang asyik dengan pengalaman sensori serta kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dan realita.

  • Controling adalah : tahap pengalaman halusinasi yang berkuasa ( cemas berat).

Karakteristik : klien menghentikan perlawanan dan menyerah pada halusinasi. Isi halusinasi menjadi menarik. Klien mungkin mengalami pengalaman kesepian jika sensori halusinasi berhenti.

Perilaku : klien menjadi taat pada perintah halusinasi, sulit berhubungan dengan orang lain, respon perhatian pada lingkungan berkurang ( biasanya hanya beberapa detik saja), serta tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tremor dan berkeringat.

  • Conquering adalah : tahap halusinasi panik dan umumnya melebur dalam halusinasi.

Karakteristik : pengalaman sensori menjadi mengancam bila klien mengikuti perintah halusinasi. Halusinasi berakhir dari beberapa jam atau hari bila tidak ada intervensi teraupetik.

Perilaku : klien panik, beresiko tinggi mencederai, bunuh diri atau membunuh. Tindak kekerasan agitasi menarik atau katatonik, serta ketidakmampuan memberi respon pada lingkungan.

Kapan harus ke dokter

Periksakan ke dokter bila Anda mengalami gejala halusinasi yang disebutkan di atas, terutama bila sering terjadi dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Segera cari pertolongan medis bila halusinasi sampai mendorong Anda melakukan tindakan yang berbahaya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Diagnosis Halusinasi

Dokter akan menanyakan keluhan dan riwayat penyakit, pengobatan, serta riwayat keluarga pasien, serta melakukan pemeriksaan fisik. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui penyebab halusinasi, seperti:

  • Pemeriksaan darah dan urine, untuk melihat kemungkinan infeksi serta penyalahgunaan alkohol dan NAPZA.
  • EEG (elektroensefalogram), yaitu pemeriksaan aktivitas listrik otak untuk melihat apakah halusinasi disebabkan oleh epilepsi.
  • Pemindaian CT scan dan MRI, untuk mendeteksi stroke serta kemungkinan adanya cedera atau tumor di otak.

Pengobatan Halusinasi

Pengobatan halusinasi tergantung pada penyebabnya. Dokter akan meresepkan obat-obatan bila halusinasi disebabkan oleh gangguan mental, epilepsi, atau migrain. Namun, pada halusinasi yang disebabkan oleh tumor otak, dokter akan melakukan prosedur bedah atau radiasi.

Dokter juga akan menyarankan terapi perilaku kognitif, terutama pada pasien halusinasi yang disebabkan oleh gangguan mental. Terapi ini dapat membantu pasien untuk menghadapi rasa takut atau paranoid.

Pencegahan Halusinasi

Halusinasi dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan rutin saat Anda mengalami gangguan mental atau gangguan kesehatan yang bisa menyebabkan munculnya halusinasi.

Selain itu, untuk mencegah halusinasi, Anda juga dianjurkan untuk:

  • Mengelola stres dengan baik, misalnya dengan melakukan teknik relaksasi.
  • Menghindari penggunaan NAPZA.
  • Membatasi konsumsi minuman beralkohol.
  • Tidur yang cukup.
  • Hindari melakukan aktivitas yang melampaui ambang ketahanan diri.
  • Jangan menyimpan dendam atau sakit hati karena akan menyebabkan kerusakan jiwa.
  • Carilah kesibukan atau kegiatan yang bersifat positif.
  • Jangan biarkan diri kita terbawa oleh lamunan yang tidak menentu.
  • Bergaul atau berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.
  • Membaca atau menulis.

Cara Mengatasi Halusinasi

Aspek penting dalam membantu orang terkasih yang mengalami halusinasi adalah meyakinkan mereka bahwa pengobatan tersedia. Berikut ini beberapa langkah praktis untuk membantu orang yang Anda cintai mengatasi halusinasi.

Perhatikan Lingkungan

Lingkungan dapat memainkan peran penting dalam kesalahan persepsi dan memperburuk halusinasi; misalnya, ruangan dengan penerangan yang buruk dan pengaturan yang bising dan kacau dapat meningkatkan kemungkinan halusinasi.

Tetap tenang

Meskipun bisa menakutkan dan tidak nyaman ketika orang yang dicintai mengalami halusinasi, penting untuk melakukan yang terbaik untuk merespons dengan cara yang tenang dan suportif. Misalnya, Anda dapat mengatakan "Aku tahu ini menakutkan untukmu" atau "Jangan khawatir; Aku di sini."

Gunakan Distraction

Bergantung pada tingkat keparahan halusinasi, menyentuh atau menepuk dengan lembut orang yang Anda cintai dapat membantu mengganggu dan mengurangi halusinasi. Gangguan lain yang mungkin terjadi termasuk percakapan, musik, atau pindah ke ruangan lain.

Jujur

Meskipun Anda tidak ingin mengecewakan orang yang Anda cintai atau terlibat dalam pertengkaran, Anda tetap ingin jujur dan meyakinkan mereka bahwa Anda tidak mengabaikan kekhawatiran mereka. Jika mereka bertanya: "Apakah Anda mendengar itu?" Pertimbangkan untuk mengatakan: "Aku tahu kamu mendengar sesuatu, tapi aku tidak mendengarnya."

Pertahankan Rutinitas

Menjaga rutinitas sehari-hari yang normal dan dapat diandalkan dapat mengurangi kemungkinan orang yang Anda cintai menyimpang dari kenyataan dan mengalami halusinasi. Pertimbangkan untuk membuat catatan tentang kapan halusinasi terjadi dan dalam keadaan apa.

 

 

Penulis: 
Raden Imam Bramono, S.Kep., Ners
Sumber: 
alodokter.com

Artikel

15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
04/12/2020 | Ns. MUSTIKAWATI, SKep
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep