Primary tabs

APA YANG HARUS DIKETAHUI KELUARGA DALAM MERAWAT PASIEN JIWA

Gangguan jiwa merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di Negara maju, modern dan industry. Keempat masalah kesehatan utama tersebut adalah penyakit degeneratif, kanker, gangguan jiwa, dan kecelakaan. Meskipun gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak mampuan serta identitas secara individu maupun kelompok akan menghambat pembangunan, karena mereka tidak produktif dan tidak efisien.

Gangguan jiwa Skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya begitu saja akan tetapi banya kfaktor yang menyebabkan terjadinya gejala Skizofrenia. Berbagai penelitian telah banyak dalam teori biologi dan berfokus pada penyebab Skizofrenia yaitu faktorgenetik, factor neurotomi dan neurokimia atau struktur dan fungsi otak serta imunovirologi atau respon tubuh terhadap perjalanan suatu virus.

Keluarga merupakan sistem pendukung utama. Keluarga dipandang sebagai sebuah sistem, sehingga apabila didalam keluarga terdapat satu oranganggota keluarga yang menderita sakit atau mempunyai masalah maka akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain. Keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien akan meningkatkan hasil yang optimal dibandingkan apabila hanya dilakukan perawatan secara individu saja.

Kesembuhan pasien gangguan jiwa Skizofrenia relatif lama karena merupakan penyakit kronis, perawatan klien di rumah mungkin jauh lebih baik oleh karena itu pengetahuan keluarga dalam pengobatan pasien gangguan jiwa Skizofrenia sangat penting untuk mendukung kesembuhan. Terapi gangguan jiwa Skizofrenia harus saling terkait antara pasien dengan Dokter psikiatri, perawat, keluarga, maupun masyarakat. Para petugas kesehatan atau perawat harus memberikan penyuluhan yang optimal kepada keluarga tentang cara perawatan pasien Skizofrenia sehingga keluarga dapat mengerti dan memahami bagaimana perawatan pasien Skizofrenia.

Selain pengetahuan keluarga terhadap anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, sikap yang diberikan keluarga sangat berpengaruh terhadap proses kesembuhan dan dalam memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Sikap berupa dukungan keluarga yang bisa diberikan kepada pasien meliputi dukungan emosional yaitu dengan memberikan kasih sayang dan sikap positif yang diberikan kepada klien, dukungan informasional yaitu dengan memberikan nasihat dan pengarahan kepada klien untuk minum obat. Sikap yang baik dan perawatan yang baik oleh keluarga terhadap anggota keluarga yang mengalami gannguan jiwa akan berdampak baik bagi kehidupan dan kualitas hidup anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

Beberapa penyebab gangguan jiwa menurut Wahyu (2012) yaitu :

  1. Penyebab primer (primary cause)

Kondisi yang secara langsung menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, atau kondisi yang tanpa kehadirannya suatu gangguan jiwa tidak akan muncul.

  1. Penyebab yang pencetus (precipatating cause)

Ketegangan-ketegangan atau kejadian-kejadian traumatik yang langsung dapat menyebabkan gangguan jiwa atau mencetuskan gangguan jiwa.

  1. Penyebab menguatkan (reinforcing cause)

Kondisi yang cenderung mempertahankan atau mempengaruhi tingkah laku maladaptif yang terjadi.

  1. Multiple cause

Serangkaian faktor penyebab yang kompleks serta saling mempengaruhi. Dalam kenyataannya, suatu gangguan jiwa jarang disebabkan oleh satu penyebab tunggal, bukan sebagai hubungan sebab akibat, melainkan saling mempengaruhi antara satu faktor penyebab dengan penyebab lainnya.

 

Ciri-Ciri Gangguan Jiwa

Ciri-ciri gangguan jiwa meliputi:

a. Perubahan yang berulang dalam pikiaran, daya ingat, persepsi dan daya tilikan yang bermanifestasi sebagai kelainan bicara dan perilaku.

b. Perubahan ini menyebabkan tekanan batin dan penderitaan pada individu dan orang lain di lingkungannya.

c. Perubahan perilaku, akibat dari penderita ini menyebabkan gangguan dalam kegiatan sehari-hari, efisien kerja, dan hubungan dengan orang lain (hendaknya dalam bidang sosial dan pekerjaan). Dalam buku Keliat, 2012, menyebutkan ciri-ciri lain dari gangguan jiwa, yaitu: sedih berkepanjangan, tidak semangat dan cenderung malas, marah tanpa sebab, mengurung diri, tidak mengenali orang, bicara kacau, bicara sendiri, tidak mampu merawat diri.

 

 

 

Anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa bagi keluarga belum terbiasa dengan keadaan tersebut biasanya terjadi :

  1. Penolakan
  2. Stigma
  3. Frustasi, tidak berdaya dan kecemasan
  4. Kelelahan dan Burn out
  5. Duka
  6. Kebutuhan pribadi dan mengembangkan sumber daya pribadi Jika anggota keluarga memburuk akibat stress dan banyak pekerjaan, dapat menghasilkan anggota keluarga yang sakit tidak memiliki sistem pendukung yang sedang berlangsung.

Walsh merekomendasikan cara-cara dalam pendidikan keluarga sebagai berikut:

  1. Terima kenyataan apa adanya pada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Tidak ada pilihan lain yang menguntungkan bagi keluarga kecuali menerima kenyataan. Keputusan memilih diluar hal tersebut justru semakin memperparah keadaan penderita, dan akan memperlebar wilayah gangguan jiwa bagi anggota keluarga yang lainya.
  2. Rencanakan program perawatan diri. Keluarga harus mengatur, bagaimana pemenuhan kebutuhan sehari-hari, agar tercukupi secara memadai bagi anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Siapa yang bertanggung jawab urusan tertentu, dan siapa untuk urusan lainnya, termasuk perlibatan penderita itu sendiri sesuai dengan kemampuannya harus benar-benar dibicarakan bersama. Disinilah penderita akan mendapatkan “Rasa nyaman” sebagai jaminan bagi dirinya.
  3. Mengerjakan aktivitas personal dan hobby. Keluarga dalam hal ini, adalah juga sebagai manusia yang juga membutuhkan pemenuhan-pemenuhan kebutuhan secara wajar bagi keseimbangan fisik dan mentalnya. Dalam hal ini, bukan berarti keluarga dengan anggota keluarga gangguan jiwa, berperilaku tidak wajar dan memiliki pemenuhan kebutuhan yang tidak sama, justu jika ingin kembali harmonis dan utuh, maka mereka sebagai keluarga tetap harus mengerjakan aktivitas personal dan hobby tertentu secara wajar pula.
  4. Terlibat dalam organisasi sosial yang mendukung. Disinilah urgensi keluarga. Apalagi dengan anggota keluarga mengalami gangguan jiwa, yang sebenarnya senantiasa akan membutuhkan support dari lingkungannya. Sarana yang paling memungkinkan untuk hal tersebut adalah keterlibatan keluarga dalam aktivitas atau organisasi sosial masyarakat yang mendukung.
  5. Hindari nasihat dan opini dari orang yang tidak mempunyai pengalaman gangguan jiwa. Sangat mungkin bahwa keluarga akan mendapat komentar minimal dari orang atau keluarga lain ketika mengetahui adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Komentar yang tidak produktif atau dapat diprediksi demikian, merupakan langkah untuk menghindari jika akan mendapat stressortersendiri bagi keluarga, karena komentar yang berupa nasihat atau opini dari orang lain adalah sebuah keniscayaan yang tidak akan selalu berhasil ketika terus menerus menghindari coping. Hal ini merupakan sebuah sikap semacam lari dari kenyataan.
  6.  Ingat bahwa kebahagiaan dapat terjadi. Sengsara atau bahagia sesungguhnya adalah sebuah kemestian. Kemestian adalah sebuah keputusan pilihan. Untuk itulah keluarga yang ingin dan memahami dengan baik, serta memiliki kemampuan untuk berubah, kebahagiaan hidup dalam keluarga adalah sesuatu yang dapat terjadi, disinilah keluarga sekiranya memiliki optimisme dan kekuatan untuk melakukan perubahan.
  7.  Berhenti menyalahkan diri sendiri Pada satu sisi, begitu kuatnya memori yang ada mengatakan pada keluarga bahwa gangguan jiwa adalah penyakit yang sangat sulit disembuhkan. Hal demikian semakin memperkuat dan memperpanjang perasaan menyalahkan diri sendiri keluarga, yang pasti bahwapikiran dan perasaan tersebut bagi keluarga justru semakin tidak menguntungkan. Pemaknaan tersebut harus disadari oleh keluarga sebagai langkah awal untuk perbaikan dan pemulihan, sehingga ketika perasaan itu muncul tidak ada pilihan lain kecuali harus menghentikannya(Susana,2007)

Keluarga kurang mengerti dankeluarga kurang terpajan dengan informasi tentang cara merawat pasien setelah pulang kerumah, pengetahuan keluarga sangat minim tentang cara mengenal tanda gejala dan proses terjadinya halusinasi, cara merawat, cara berkomunikasi, cara pemberian obat, pemberian aktivitas serta cara memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Sehingga pasien tidak tertangani dengan baik selama berada dirumah.

Penulis: 
Ns. Mustikawati S.Kep
Sumber: 
berbagai sumber

Artikel

16/03/2021 | Retno Indarwati. 2020. Lindungi Lansia dari Covid-19.Indonesian Journal of Comunity Health Nursing, 5(1), 1.Hadijah, Siti. 2020. Cara Merawat Lansia di rumah agar tetap sehat saat pandemi. www.cermati.com (Diakses tanggal 10 Maret 2021).Savitri, Tania. 20
09/03/2021 | dr. Fadhli Rizal Makarim dan berbagai sumber lainnya
09/03/2021 | berbagai sumber
04/12/2020 | berbagai sumber
15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep
22/03/2016 | Denny Kamajaya. S.sos