Primary tabs

ONE DAY FOR CHILDREN 2017

Pangkalpinang, Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tanggal 29 Agustus 2017 kembali mengadakan peringatan Hari Anak Nasional dengan Tema 2017 adalah "Perlindungan Anak Dimulai dari Keluarga" dengan pesan utama "Saya Anak Indonesia, Saya Gembira". Tema tersebut dilatarbelakangi perlunya kesadaran keluarga Indonesia untuk mengasuh anak, karena keluarga merupakan awal mula pembentukan kematangan individu dan struktur kepribadian seorang anak.

Dewasa ini kerap kita saksikan di hampir semua media yang secara massive memberitakan hal kurang menarik dan menjurus kepada keprihatinan atas apa yang terjadi didalam dunia anak, sebut saja bullying yang kerap terjadi dan seolah-olah memberikan otoritas sendiri kepada anak untuk melakukan hal yang sama kepada teman yang kalah secara jumlah maupun pengaruh dalam lingkup bersosialisasinya.
Faktor yang dapat meningkatkan terjadinya kekerasan pada anak sangat kompleks, meliputi diri anak itu sendiri, keluarga, dan komunitas atau negara. Faktor risiko dalam diri individu anak meliputi sifat hiperaktif, impulsif, agresif, kontrol perilaku yang buruk, kurang perhatian, anak yang tidak dikehendaki, keterlibatan awal atau kecanduan alkohol, obat-obatan dan rokok, keyakinan aneh dan sikap antisosial. Selain itu, juga kecerdasan dan prestasi pendidikan yang rendah, rendahnya minat dan kegagalan di sekolah, berasal dari orang tua tunggal atau rumah tangga kurang harmonis, perceraian orangtua, dan paparan kekerasan dalam keluarga. 

Faktor risiko dalam hubungan dengan orang dekat dalam keluarga atau teman meliputi kurangnya pemantauan dan pengawasan anak oleh orangtua, pendidikan disiplin orangtua yang terlalu keras, kendur atau bahkan tidak konsisten, keterikatan emosional antara orangtua dan anak yang rendah, keterlibatan orangtua dalam kegiatan anak yang rendah, dan orangtua terlibat dalam penyalahgunaan obat atau kriminalitas. Selain itu, juga tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga yang rendah. Demikian sambutan dari Ibu Melati Erzaldi Oesman.

Faktor risiko dalam komunitas dan masyarakat yang lebih luas meliputi rendahnya tingkat kohesi sosial dalam masyarakat dan pasokan senjata atau obat-obatan terlarang, tidak adanya alternatif nonkekerasan untuk menyelesaikan konflik antar­anak, ketimpangan pendapatan yang tinggi, perubahan sosial dan demografi yang cepat, urbanisasi, dan kualitas pemerintahan suatu negara. Dalam hal ini meliputi penegakan hukum dan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan dan perlindungan sosial. 

Pada kesempatan yang sama dalam paparannya Wakil Gubernur Provinsi Bangka Belitung Bapak Abdullah Fatah menginginka adanya sinergi Program pencegahan kekerasan pada anak meliputi program keterampilan dan pembangunan sosial untuk membantu anak mengelola kemarahan, menyelesaikan konflik, dan mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk memecahkan masalah, yang disokogurui oleh Dinas Sosial. Kegiatan ini berlangsung selama satu hari diikuti hampir 200 anak terdiri dari 14 LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) dan 5 dari  TAS ( Taman Anak Sejahtera), antara lain LKSA Aisyah Muntok Bangka Barat, Iksa Aisyiah Kota Pangkalpinang, Tas Azizah Pangkalpinang, Tas Arraisyiah Bangka Tengah, Tas Mutiara serumpun sebalai Pangkalpinang, dan LKSA Darul Istiqomah Bangka Selatan. Acara dimeriahkan juga dengan demonstrasi tarian daerah yang dipersembahkan oleh anak-anak  TAS Maupun LKSA itu sendiri.
 
Momentum Hari Anak Nasional 2017 mengingatkan kita tentang harapan bahwa perlindungan anak akan dimulai dari keluarga. Setiap keluarga seharusnya mampu mengoreksi faktor risiko untuk terjadinya kekerasan pada anak. Sudahkah kita bertindak? Imbuh Bapak Aziz Harahad dalam laporan penyelenggaraan hari anak nasional 2017. 

Sumber: 
Bidang Rehabilitasi sosial dan anak
Penulis: 
Denny Kamajaya. S.Sos
Fotografer: 
Denny Kamajaya. S.Sos
Editor: 
nurmala dewi