Primary tabs

LGBT " antara kontroversi dan gaya hidup"

      Istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) belakangan ini menjadi akrab di telinga maupun di mata kita. Berbagai media massa maupun media sosial banyak menyinggung hal tersebut. Baik sebagai sebuah pemberitaan, pembahasan fenomena dan kasus, maupun meme-meme yang dibuat dengan tujuan penyampaian informasi maupun bullying.

     Mungkin menjadi hal yang mengejutkan kita ketika sosok selebritis yang selama ini kita ketahui sebagai laki-laki yang membina keluarga normal (pasangan lawan jenis) dan bahkan mempunyai keturunan diberitakan sebagai seorang pelaku pelecehan seksual terhadap seseorang yang notabene berjenis kelamin sama dengan dirinya. Kemudian disusul oleh kasus yang hampir serupa namun dengan pelaku yang berbeda dan korban yang masih di bawah umur namun juga berjenis kelamin sama dengan pelaku. Tidak sedikit kemudian media yang memberitakan kasus tersebut bertubi-tubi. Kita “dipaksa” mengonsumsi hal yang semula kita anggap tabu. Seringnya kita terpapar sehingga akrab dengan istilah-istilah yang berkaitan dengan LGBT membuat kita secara tidak sadar memberi ruang di dalam otak kita. Yang semula tidak mengetahui, mulai tahu walaupun terkadang dengan mata terbelalak atau dengan ekspresi jijik. Namun, ada juga yang sambil melengos berlalu dan tidak lupa ada juga yang mulai bersuara tentang HAM (Hak Asasi Manusia) atas mereka yang dianggap “korban penyelewengan genetika”.

     Membicarakan LGBT selalu ada dua kubu yang berperang pendapat. Satu sisi pendukung dan penggiat, sisi lain yang menentang kelompoknya juga perilaku LGBT. Yang menolak salah satunya berpegang teguh pada ajaran agama, misalnya Umat Islam dengan ayat Al-Quran yang menceritakan tentang azab Allah yang menimpa Kaum Sodom, yaitu kaum Nabi Luth yang melakukan tindakan homoseksual (Gay dan Lesbian). Diwahyukan mereka menyukai sesama jenis dan tidak tertarik lagi dengan lawan jenisnya sehingga Allah menimpakan adzab dan pemusnahan terhadap kaum tersebut.

Salah satu meme yang menyebar di media berisi tentang fitrah manusia diciptakan berasal dari Adam dan Hawa bukan Adam dan Hendra. Menunjukkan bahwa fitrahnya (asalnya) manusia berpasangan dengan lawan jenisnya bukan sesama jenis. Tujuan penciptaan manusia dengan berlawanan jenis ini pun diperuntukkan untuk meneruskan keturunan, untuk keberlangsungan hidup manusia. Selain itu, di internet pun beredar foto pernikahan sejenis laki-laki, seorang memakai jas tuxedo, seorang lagi memakai jas namun dengan bawahan gaun yang mengembang layaknya pengantin perempuan. Secara tidak sadar mereka merasakan adanya dorongan untuk “membedakan” pasangannya walaupun mereka sejenis.

Kita semua sebagai orang dewasa mengetahui bahwa secara alamiah untuk menghasilkan keturunan/ anak haruslah adanya percampuran sel telur dan sel sperma, baik dengan cara pembuahan langsung melalui hubungan seksual maupun melalui inseminasi buatan. Ketika pasangan sejenis memutuskan untuk mempunyai keturunan mungkin mereka bisa saja memilih untuk melakukan inseminasi buatan, dengan sel telur atau sel sperma dari donor, atau bagi pasangan gay bisa “menyewa” rahim perempuan lain untuk mengandung anak mereka. Dalam alam bawah sadar mereka pun menyadari bahwa untuk keberlangsungan haruslah melalui fitrah, yaitu percampuran sel telur dan sel sperma. Baik itu mereka mengadopsi anak, mereka tetap mengetahui bahwa dengan berpasangan dengan sesama jenis mereka tidak bisa memproduksi keturunan secara langsung sesuai dengan jalan yang fitrah.

Di kalangan kaum lesbian dan gay pun dikenal istilah top-bottom, maskulin-feminim, sebagai peran yang harus mereka lakukan dalam hubungan. Mereka dapat saling bergantian memerankannya. Terkadang dalam pasangan gay, pria yang satu berperan sebagai laki-laki, yang satunya sebagai perempuan. Pun dalam lesbian, perempuan yang satu berperan sebagai laki-laki dan satunya sebagai perempuan. Dalam hal ini pun mereka menyadari harus adanya perbedaan fungsi dan peran dalam berpasangan.

Tak jarang kaum LGBT mendapat perlakuan yang diskriminatif, bahkan ditindas (bully). Karena tentu saja nilai agama dan nilai moral yang berkembang di Indonesia menolak keberadaan LGBT. Sehingga, penolakan-penolakan yang muncul tidak jarang menjadi perilaku yang mengarah pada agresivitas yang dapat mencelakai pelaku LGBT. Ketika mereka diperlakukan tidak semestinya, ditolak oleh lingkungan sehingga mengganggu fungsi sosialnya. Tak jarang mereka bahkan tidak bisa untuk melakukan aktivitas untuk menyambung hidup, mencari nafkah. Sehingga, walaupun sekarang keberadaan LGBT sudah mulai berani menunjukkan diri tapi masih banyak yang sembunyi-sembunyi dan menutup identitas dirinya sebagai LGBT.

Terlepas dari kontroversi pendapat tentang LGBT, para pelakunya tetaplah manusia, memiliki hak-hak yang sama dengan manusia lainnya. Mereka pun butuh perlindungan sebagai seorang manusia, mereka harus dirangkul untuk dikembalikan kepada fitrahnya. Bagaimana mereka dapat kembali “normal” jika untuk duduk bersama mereka pun kita enggan.

 

Penulis: 
Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
Sumber: 
Berbagai sumber, media massa

Artikel

23/03/2018 | http://www.indonesiamediacenter.com/2017/10/indonesia-bicara-baik-perhumas-akan.html
27/12/2017 | wired Magazine
15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
1,973 kali dilihat
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
977 kali dilihat
22/03/2016 | Denny Kamajaya. S.sos
304 kali dilihat
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep
186 kali dilihat
06/06/2016 | Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
184 kali dilihat