Primary tabs

Kesetiakawanan sosial "Harmoni Indonesia"

Bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari beragam bahasa dan adat istiadatnya. Indonesia tidak hanya memiliki jumlah penduduk yang besar, tetapi juga memiliki banyak suku, agama, ras dan golongan. Persoalan yang terjadi adalah apakah masyarakat Indonesia yang majemuk ini masih menempatkan kesetiakawanan sosial sebagai mozaik untuk membangun keteraturan dalam situasi yang terjadi sekarang?

Kita ketahui bersama bahwa sekarang ini konflik terjadi dimana-mana, prasangka dan saling menyalahkan kerap bermunculan. Ikatan sosial berbasis kelompok tumbuh dan berkembang terutama pada setiap pemilihan presiden maupun kepala daerah. pemilihan jabatan berdasarkan ikatan kolektivitas dan berbagai peristiwa lainnya. Hal tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya kesetiakawanan sosial di lingkungan masyarakat kita dewasa ini. Kesetiakawanan sosial yang ada di dalam kehidupan masyarakat saat ini adalah kesetiakawanan sosial “semu” yang dengan mudah dapat kita temukan dalam setiap aspek kehidupan saat ini. Tidak sedikit kelompok yang semula peduli terhadap pihak lain berubah menjadi lawan karena berbeda kepentingan.

Konsepsi kesetiakawanan sosial saat ini telah direkonstruksi menjadi kesadaran individualistik dan kesadaran kolektif atas dasar alasan rasional dan kepentingan. Memudarnya perasaan empati dan peduli serta saling berbagi menjadikan kepentingan individualis dan kolektif lebih utama daripada kepentingan sosial. Selain itu terjadinya pergeseran sistem perilaku dari pro sosial dan altruistik ke arah sistem perilaku prokolektif dan individualis di lingkungan masyarakat. Perubahan pemaknaan kesetiakawanan sosial seperti ini menjadi salah satu pemicu kenapa Indonesia belum mampu mengatasi krisis dibandingkan dengan negara lain. Bangsa Indonesia masih terus berhadapan dengan berbagai masalah kesejahteraan sosial yang meliputi kemiskinan, keterlantaran, ketunaan, keterpencilan dan kebencanaan khususunya bencana sosial yang jumlahnya tidak kecil.

Nilai kesetiakawanan sosial belum sepenuhnya menjadi kesadaran nasional, baik di level struktural, institusional, maupun personal. Kesenjangan terjadi antar wilayah, antara pusat dan daerah, antar pulau, antar etnik, dan antar golongan. Selain itu, revolusi globalisme di berbagai negara ditengarai tengah menetrasi berbagai modal sosial lokal, ditandai dengan sejumlah gejala antara lain menguatnya semangat individualis yang berujung pada proses penggerusan semangat kebersamaan, mencuatnya identitas komunal dan kedaerahan, melemahnya semangat kebangsaan dan nasionalisme serta makin memudarnya modal sosial masyarakat yang dilandasi oleh saling percaya, komitmen bersama, kesepakatan bersama dan aturan main dalam kehidupan berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. Bahkan dalam beberapa hal, terjadi kanibal sosial, yaitu sifat saling menghancurkan, saling membunuh karakter dan berujung pada saling mematikan.

Dilatarbelakangi kondisi tersebut diatas, maka sudah waktunya kesetiakawanan sosial perlu kita rajut kembali menjadi proses sosial yang bermakna bagi warga masyarakat, sehingga masalah sosial yang sedang melanda bangsa ini dapat segera teratasi. Meskipun nilai-nilai kesetiakawanan sosial seperti kebersamaan, kegotongroyongan dan kekeluargaan sudah mulai luntur, namun semangat untuk membangkitkan nilai-nilai tersebut tidak boleh hilang begitu saja. Dengan merajut kembali kesetiakawanan sosial diharapkan harmoni kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dapat dibangun dalam rangka mewujudkan tujuan bersama Indonsia Sejahtera.

Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang diperingati pada tanggal                20 Desember setiap tahunnya merupakan salah satu  momentum yang sangat strategis sebagai upaya untuk mengembangkan dan mengimplementasikan kesetiakawanan sosial sebagai suatu gerakan nasional sesuai dengan kondisi dan tantangan saat ini. Peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) merupakan upaya  mengenang, menghayati dan meneladani semangat persatuan dan kesatuan, kegotongroyongan dan kekeluargaan masyarakat Indonesia untuk bahu membahu mengatasi permasalahan bangsa menuju Indonesia sejahtera. Sejarah telah membuktikan bahwa kesetiakawanan sosial telah teruji dengan serangkaian perjalanan yang cukup panjang dalam kehidupan berbangsa sejak masa pra kolonial, masa kolonial dan puncaknya adalah kemerdekaan Indonesia. Kesetiakawanan sosial telah terbukti menjadi modal sosial yang ampuh dalam menghadapi tantangan dan ancaman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai nilai dasar kesejahteraan sosial, kesetiakawanan sosial harus terus direvitalisasi sesuai dengan kondisi aktual bangsa dan diimplementasikan dalam wujud nyata di dalam hidup kita. kesetiakawanan sosial harus terus digali, dikembangkan, dan didayagunakan dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yaitu Masyarakat Sejahtera. Kesetiakawanan sosial sebagai wujud dari sikap, perilaku dan jati diri bangsa Indonesia dapat menjadi modal yang besar dalam mengatasi berbagai permasalahan sosial bangsa ini, apabila nilai kemerdekaan, nilai kepahlawanan dan nilai kesetiakawanan itu melekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penulis: 
Zullia
Sumber: 
Jurnal Kementrian Sosial RI

Artikel

24/12/2018 | Jurnal Kementrian Sosial RI
23/03/2018 | http://www.indonesiamediacenter.com/2017/10/indonesia-bicara-baik-perhumas-akan.html
27/12/2017 | wired Magazine
15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
22/03/2016 | Denny Kamajaya. S.sos
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep
05/01/2017 | Denny Kamajay. S.Sos