Primary tabs

Indonesia Bicara Baik

Tahun 2016 dan 2017 lalu Indonesia mengalami fenomena demonstrasi damai yang terjadi beberapa jilid. Demonstrasi yang disebut “Aksi Bela Islam” tersebut dilatarbelakangi ucapan salah satu tokoh politik Indonesia, beragama non Muslim, yang dirasa merupakan bentuk penistaan terhadap agama Islam. Gerakan massa tersebut kemudian dianggap mampu menggiring tokoh politik tersebut menjadi status tersangka bahkan kemudian dipenjara. Sebelumnya, perang opini di media massa ramai terjadi, bahkan muncul berbagai istilah yang saling menjelekkan masing-masing kubu, kubu yang membela dan kubu yang menuntut si tokoh politik.

Kemudian, di awal 2018 ini beberapa komika, dengan latar belakang agama muslim dan non muslim, pun dianggap menista agama karena mengambil bahan stand up comedy-nya yang menyinggung agama Islam. Tidak berhenti di situ, perang opini lagi-lagi bertebaran di media massa. Di satu sisi banyak yang menghujat para komika, bahkan meminta mereka dihukum. Dan di sisi lain, tidak sedikit pula yang membela para komika dengan berbagai alasan.

Terlepas salah atau benarnya mereka. Satu hal yang perlu kita lihat bersama, bahasa dan pilihan kata memanglah seperti pisau bermata dua. Ia bisa menjadi salah satu faktor yang bisa mempererat persatuan, atau ia bisa menjadi faktor pemicu konflik sosial yang kemudian memecah belah bangsa.

Konvensi Humas Nasional 2017, yang dilangsungkan di Bogor pada 27 s.d. 28 November 2017 lalu mengusung tema Indonesia Bicara Baik. Menurut Ketua Umum BPP Perhumas Indonesia, Agung Laksana, bahwa latar belakang serta tujuan digelarnya KNH adalah agar masyarakat memahami peran fungsi humas sebenarnya dengan harapan masyarakat dapat menyadari bahwa dirinya adalah humas bagi Indonesia. Sebagai humas, masyarakat harus mensosialisasikan pesan positif kepada publik agar timbul kepercayaan serta reputasi atas organisasi dan negaranya.

Pesan tersebut memang mengedepankan masyarakat Indonesia sebagai promotor atas negaranya. Masyarakat Indonesialah yang harus mempromosikan negaranya sendiri. Sayangnya, cyber war di media sosial sepertinya masih menjadi sebuah hal yang menarik bagi masyarakat Indonesia. Masing-masing ingin mengemukakan pendapatnya dan merasa dirinya lah yang paling benar. Ketika ada pendapat berbeda yang diutarakan orang lain maka dengan mudahnya akan mengeluarkan perang pendapat dengan kata-kata yang tidak mengenakkan. Ada hal yang kurang disadari oleh para pelaku cyber war yaitu bahwa setiap yang ditampilkan akan dapat dilihat oleh orang banyak, tidak hanya orang-orang yang dikenal, tetapi juga orang-orang yang tidak dikenal, bahkan mendunia. Dan yang paling penting, akan meninggalkan jejak digital yang dengan mudah diperoleh untuk dijadikan bukti.

Informasi yang dengan mudah mendunia melalui media sosial harusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk menyebarkan pesan positif mengenai negara kita. Indonesia perlu mengembalikan image positifnya yang sejak dahulu dikenal hingga luar negeri. Bahwa Indonesia memiliki masyarakat yang ramah, sopan santun dan saling gotong royong dimulai dengan bicara baik tentang Indonesia dan kepada sesama masyarakat Indonesia. Perlu menjadi kesadaran kita bahwa kata-kata merupakan cerminan dalam diri seseorang. Perkataan baik maupun buruk merupakan cerminan dirinya sendiri. Mulai berkata baik dapat berdampak baik pula, untuk diri kita sendiri, orang lain dan negara kita. Karena apa yang kita tabur itulah yang kita tuai, apa yang kita tanam itulah yang kita panen. Jadi mulailah BICARA BAIK dan lanjutkan dengan tindakan yang baik.

Penulis: 
Denny Kamajaya. S.Sos
Sumber: 
http://www.indonesiamediacenter.com/2017/10/indonesia-bicara-baik-perhumas-akan.html

Artikel

24/12/2018 | Jurnal Kementrian Sosial RI
23/03/2018 | http://www.indonesiamediacenter.com/2017/10/indonesia-bicara-baik-perhumas-akan.html
27/12/2017 | wired Magazine
15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
22/03/2016 | Denny Kamajaya. S.sos
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep
05/01/2017 | Denny Kamajay. S.Sos