Primary tabs

HIV "Monster abad ini"

Jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan virus HIV diperkirakan antara 172.000 dan 219.000, sebagian besar adalah laki-laki. Jumlah itu merupakan 0,1% dari jumlah penduduk. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPA), sejak 1987 sampai Juni 2008,tercatat 12.686 kasus AIDS – 2.479 di antaranya telah meninggal ( Undp ).

Menurut WHO (World Health Organization) secara global, data menujukkan bahwa presentasi orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2007 diestimasikan sebanyak 33,2 juta orang  hidup dengan HIV, 2,5 juta adalah baru terinfeksi dan 2,1 juta orang meninggal karena AIDS. jumlah penderita HIV  di Asia meningkat lebih dari 150% dan di Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan epidemik HIV tercepat. ( Olongdesain, 2009 )

Secara global, perkembangan epidemi HIV (human immunodeficiency virus ) atau AIDS (acquired immuno deficiency syndrome) sudah semakin meluas dan menyebar keseluruh penjuru dunia. Menurut UNAIDS ( united nations programme on HIV/AIDS), 34 juta orang hidup dengan HIV pada tahun 2011, naik dari 29,4 juta pada tahun 2001.

Tujuan keenam dalam MDGs (millennium Development Goals) menangani berbagai penyakit menular paling berbahaya. HIV yaitu virus penyebab Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), terutama karena penyakit ini dapat membawa dampak yang menghancurkan, bukan hanya terhadap kesehatan masyarakat namun juga terhadap negara secara keseluruhan. Indonesia beruntung bahwa HIV belum mencapai kondisi seperti yang terjadi di Afrika dan beberapa negara Asia Tenggara.

Target 6A pada MDGs adalah : Menghentikan dan mulai membalikkan tren penyebaran HIV dan AIDS pada tahun 2015. Prevalensi saat ini adalah 5,6 per 100.000 orang di tingkat nasional namun pada saat ini tidak ada indikasi bahwa kita telah menghentikan laju penyebaran HIV dan AIDS. Meskipun demikian, kita semestinya bisa melakukannya. Hampir semua data yang ada berikut ini, terkait dengan kelompok-kelompok berisiko tinggi. ( Undp ).

Dalam rangka menyusun sejumlah strategi dan intervensi yang tepat untuk menghadapi epidemi, dan sebagai tindak lanjut dari deklarasi komitmen untuk penanggulangan HIV dan AIDS pada United Nations General Assembly Special Session (UNGASS) diperlukan informasi tentang HIV/AIDS secara periodik, dan dalam rangka penanggulangan AIDS perlu ditingkatkan kerja sama lintas sektor dengan memperhatikan kesenjangan tersebut. Sikap menerima dan sikap diskriminasi terhadap anggota keluarga yang terinfeksi HIV bervariasi menurut karakteristik. Persentase tersebut menurun pada kelompok umur lebih tinggi, pada laki-laki, berstatus belum kawin, tinggal di perkotaan, berpendidikan dan berstatus ekonomi lebih tinggi. Persentase sikap mengucilkan terhadap anggota keluarga yang terinfeksi HIV menurun pada kelompok umur lebih tinggi, pada laki-laki, berstatus belum kawin, tinggal di perkotaan, berpendidikan dan berstatus ekonomi lebih tinggi ( Laporan Rikesda, 2010 ).

Menurut Dinas Kesehatan Provinsi, Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2010, kasus HIV terdapat 80 kasus, pada tahun 2011 terdapat 114 kasus, pada 2012 terdapat 171 kasus HIV. Menurut data tersebut, dapat terlihat peningkatan jumlah kasus HIV. Data menunjukkan bahwa penularan HIV juga telah meluas kepada ibu rumah tangga. Pada tahun 2010 terdapat sebanyak 19 kasus, tahun 2011 sebanyak 23 kasus dan tahun 2012 terdapat 18 kasusHIV yang menyerang ibu rumah tangga ( Dinkes Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ).

  1. PENGERTIAN HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS, ia kelompok dari keluarga retrovirus. Seseorang yang terinfeksi HIV, akan mengalami infeksi seumur hidup. Kebanyakan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) tetap asimptomatik (tanpa tanda dan gejala dari suatu penyakit). Menurut jangka waktu panjang dan tidak diketahui terinfeksi. Meski demikian, mereka telah dapat menulari orang lain. (Kemenkes RI, 2004 ).

    Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk dalam famili lentivirus. Retrovirus mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA pejamu untuk membentuk virus DNA dan dikenali selama periode inkubasi yang panjang. Seperti retrovirus yang lain, HIV menginfeksi tubuh dengan periode inkubasi yang panjang (klinik-laten), dan utamanya menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV menyebabkan beberapa kerusakan sistem imun dan menghancurkannya. Hal tersebut terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4 dan limfosit untuk mereplikasi diri. Dalam proses itu, virus tersebut menghancurkan CD4 dan limfosit. (Nursalam, 2007). 

  2. Cara transmisi HIV
  3.    Menurut Kemenkes RI, 2004 penularan HIV terjadi melalui kontak seksual, darah, ibu ke anak selama masa kehamilan, persalinan dan pemberian ASI.
  4. Seksual
  5. Penularan melalui hubungan heteroseksual adalah cara yang paling dominan dari semua cara penularan. Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi selama senggama laki-laki dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki. Senggama berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal, oral seksual antara dua individu. Resiko tertinggi penetrasi vaginal atau anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. Kontak seksual langsung (mulut ke penis atau mulut ke vagina). Masuk dalam kategori resiko rendah tertular HIV. Tingkatan resiko tergantung pada jumlah virus keluar dan masuk ke dalam pintu masuk ditubuh seseorang. Seperti luka sayat/gores dalam mulut, perdarahan gusi dan atau penyakit gigi mulut atau pada alat genital.
  6. Pajanan oleh darah terinfeksi, produk darah atau transplantasi organ dan jaringan
  7. Penularan dari darah dapat terjadi jika darah donor tidak diuji saring untuk antibody HIV, penggunaan ulang jarum dan semprit suntikan, atau penggunaan alat medik lainnya. Kejadian diatas dapat terjadi pada tempat layanan kesehatan, seperti rumah sakit, poliklinik, pengobatan tradisional melalui alat tajam/ jarum, juga pada Injecting Drug Use (IDU). Pajanan HIV pada organ dapat terjadi dalam proses transplantasi jaringan/organ dilayanan kesehatan.

    c. Penularan dari ibu ke anak

    Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibunya saat ia dikandung, dilahirkan dan sesudah lahir. Resiko penularan tanpa intervensi, sangat bervariasi pada satu negara kenegara-negara lainnya dan di perkirakan 25-40% di negara berkembang dan antara 16-20% di Eropa dan Amerika Utara.

    Gejala

    1. Gejala Mayor
  8. Gejala mayor terdiri dari: Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan, diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan, demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan, penurunan kesadaran dan gangguan neurologis, Dementia/ HIV ensefalopati.
  9. Gejala Minor
  10. Gejala minor terdiri dari, batuk menetap lebih dari 1 bulan, dermatitis generalisata, adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang, Kandidiasis orofaringeal, Herpes simpleks kronis progresif, Limfadenophaty generalisata, infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita, Retinitis virus sitomegalo. (Kemenkes, 2006 ).

    Menurut Anthony ( fauci and lane, 2008), gejala klinis HIV/AIDS dapat dibagikan mengikuti fasenya :

    a). Fase akut

    Sekitar 50-70% penderita HIV/AIDS mengalami fase ini sekitar 3-6 minggu selepas infeksi primer. Gejala-gejala yang biasanya timbul adalah demam, faringitis, limpadenopati, sakit kepala, arthtalgia, letargi, malaise, anorexia, penurunan berat badan, mual, muntah, diare, meningitis, ensefalitis, periferal neuropati, myelopathy, mucocutaneous ulceration, dan erythematous maculopapular rash Gejala-gejala ini muncul bersama dengan ledakan plasma viremia. Tetapi demam, ruam kulit, faringitis dan mialgia jarang terjadi jika seseorang itu diinfeksi melalui jarum suntik narkoba daripada kontak seksual. Selepas beberapa minggu gejala-gejala ini akan hilang akibat respon sistem imun terhadap virus HIV. Sebanyak 70% dari penderita HIV akan mengalami limfadenopati dalam fase ini yang akan sembuh sendiri.

       b). Fase asimptomati

      Fase ini berlaku sekitar 10 tahun jika tidak diobati. Pada fase ini virus HIV akan bereplikasi secara aktif dan progresif. Tingkat pengembangan penyakit secara langsung berkorelasi dengan tingkat RNA virus HIV. Pasien dengan tingkat RNA virus HIV yang tinggi lebih cepat akan masuk ke fase simptomatik dari pada pasien dengan tingkat RNA virus HIVyang rendah.

         c). Fase simptomatik

                             Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir pada penyakit yang disebut AIDS. (repository).

    KESIMPULAN

  11. Dengan banyaknya pengetahuan tentang HIV diharapkan kita dapat menjaga pola hidup sehat, berkualitas dan bermanfaat. Hindari narkoba, hubungan seks bebas dan setia pada pasangan agar terhindar dari HIV.
Penulis: 
MUSTIKAWATI, S.Kep
Sumber: 
UNAIDS, Dinas Kesehatan Prov. Kep. Babel

Artikel

23/03/2018 | http://www.indonesiamediacenter.com/2017/10/indonesia-bicara-baik-perhumas-akan.html
27/12/2017 | wired Magazine
15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
1,973 kali dilihat
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
977 kali dilihat
22/03/2016 | Denny Kamajaya. S.sos
304 kali dilihat
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep
186 kali dilihat
06/06/2016 | Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
184 kali dilihat