Primary tabs

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana seorang invidu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Terkait pengertian tersebut, kesehatan jiwa merupakan hal penting dalam diri seorang manusia, baik sebagai individu maupun perannya sebagai anggota masyarakat.

Tanggal 10 Oktober dipilih sebagai peringatan Hari Kesehatan Jiwa Dunia. Sehari dalam setahun kita diajak sejenak mengingat dan menandai betapa pentingnya kesehatan jiwa. Namun demikian, perhatian atas kesehatan jiwa tentu saja tidak hanya dilakukan dalam satu hari dalam setahun, tapi setiap waktu dalam kesadaran bahwa kesehatan jiwa adalah hal penting bagi kita.

Menurut data WHO (2016), terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Data tersebut tentu saja akan terus bertambah mengingat terus bertambahnya jumlah penduduk, bertambahnya stressor dalam kehidupan sehari-hari dan berkembangnya teknologi sehingga menambah kompleksnya masalah yang dihadapi manusia saat ini.

Pada konsep Person in Environment menjelaskan bahwa keberadaan individu pada sebuah lingkungan akan saling mempengaruhi. Hadirnya individu akan menghasilkan kondisi yang dinamis  bagi lingkungannya, dan juga lingkungan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi individu dan berdampak pada perubahan di diri individu tertentu. Hal ini menjelaskan bagaimana seseorang yang menderita gangguan kesehatan mental merupakan hasil dari gagalnya individu dalam beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. (Adisty Wismani Putri, Budhi Wibhawa, & Arie Surya Utama).

Konsep tersebut pun bisa menjadi solusi dari permasalahan tentang kesehatan jiwa ini. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) selama ini masih mendapat stigma negatif di masyarakat sehingga mengalami kesulitan untuk mendapatkan rehabilitasi medis dan rehablitasi sosial. Kesulitan mendapatkan fasilitas rehabilitasi tersebut membuat gangguan jiwa pada penderitanya akan semakin parah.

Program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) menjadi salah satu program yang digiatkan pemerintah untuk menjadi salah satu solusi bagi permasalahan tersebut. Rehabilitasi yang dimaksud terkait rehabilitasi medis maupun rehabilitasi sosial. Elemen masyarakat, termasuk warga dan perangkat pemerintahnya (misalnya, Pekerja Sosial Masyarakat/ PSM, RT, RW, perangkat desa/ kelurahan dan kecamatan, Puskesmas, Bhabinsa, Dinas Kesehatan, RSJ, Dinas Sosial) dapat bekerja sama dalam membantu proses rehabilitasi penderita gangguan jiwa. RBM pun dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan sosial lainnya.

Rehabilitasi medis yang dimaksud adalah, masyarakat dapat membantu dan memfasilitasi proses rehabilitasi medis yang harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga kesehatan profesional. Masyarakat dapat membantu dalam proses pengantaran ODGJ ke fasilitas kesehatan yang mampu menangani gangguan jiwa, misalnya puskemas terdekat yang menyediakan obat-obatan untuk ODGJ, atau mengantar ke Rumah Sakit Jiwa terdekat, hingga memberikan informasi dan pemahaman yang tepat dalam penanganan ODGJ yang ada di lingkungan sekitarnya.

Rehabilitasi sosial yang dimaksud adalah masyarakat dapat membantu dan memfasilitasi proses rehabilitasi sosial bagi ODGJ yang sudah selesai masa pengobatannya untuk dapat kembali beraktivitas secara produktif di lingkungannya lagi tanpa perlu merasa terbebani dengan label Eks-ODGJ/ Eks-Psikotik atau dalam bahasa awam bahkan disebut sebagai orang gila.

Selain program RBM, pemerintah pun saat ini sedang menggiatkan program Indonesia Bebas Pasung bagi para penderita gangguan jiwa. Hal ini sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa pasal 86 yang menyatakan bahwa setiap orang yang dengan sengaja melakukan pemasungan, penelantaran, kekerasan dan atau menyuruh orang lain melakukan pemasungan, penelantaran dan atau kekerasan terhadap Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) atau Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) atau tindakan lainnya yang melanggar hukum ODMK dan ODGJ dipidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sehingga, tindakan pemasungan terhadap ODMK dan ODGJ merupakan pelanggaran atas peraturan perundang-undangan.

Pemasungan yang dimaksud tidak hanya menggambarkan tindakan merantai atau mengikat penderita gangguan jiwa sehingga ia kesulitan untuk melakukan aktivitas kesehariannya, tetapi juga termasuk tindakan mengurung, atau menempatkan penderita gangguan jiwa dalam suatu ruangan khusus dan tidak membiarkannya beraktivitas dan berinteraksi dengan orang lain selayaknya individu yang tidak terganggu jiwanya. Karena tindakan pemasungan hanya akan semakin memperparah gangguan jiwa yang sudah ada dan membuat penderitanya semakin kesulitan untuk mendapatkan rehabilitasi.

Program-program pemerintah di atas tentunya tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan dari masyarakat. Perlu dukungan banyak pihak serta kesadaran diri untuk saling mengingatkan bahwa kesehatan jiwa adalah hal penting bagi seorang individu. Karena ketika seseorang terganggu jiwanya, maka dapat mempengaruhi perilaku kesehariannya, bahkan dapat membahayakan keselamatan jiwa, tidak hanya dirinya sendiri tetapi juga keselamatan jiwa orang lain.

Rasa rela dan ikhlas atau perasaan ‘nrimo’ bahwa kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan yang kita inginkan, dapat membantu jiwa kita untuk senantiasa dalam keadaan sehat. Selain itu, berpegang teguh pada nilai ajaran agama bisa menjadi salah satu faktor penguat kesehatan jiwa. Tentu saja dengan guru dan sumber pemahaman yang tepat. Karena ternyata agama dan aliran paham tertentu bahkan bisa menjadi faktor pencetus gangguan jiwa jika pelaksanaan dan proses belajar yang dilakukan tidak tepat. Diharapkan melalui peringatan Hari Kesehatan Jiwa Dunia ini kita semakin mempunyai kesadaran untuk meningkatkan kesehatan jiwa kita dan orang-orang tersayang di sekitar kita. Karena kesehatan jiwa dimulai dari lingkaran terkecil kita hingga mampu menjadi lingkaran yang lebih besar lagi yaitu menciptakan masyarakat yang sehat jiwanya.

Sumber: 
jurnal unpad
Penulis: 
Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
Editor: 
Denny Kamajaya. S.Sos
Tags: 
MEWUJUDKAN KESEHATAN JIWA DENGAN KERJA SAMA SEMUA PIHAK