Primary tabs

DARURAT KEKERASAN SEKSUAL

Pelecehan seksual, bisa menimpa siapa saja di era saat ini. Wanita atau anak-anak yang sering dipandang sebagai golongan lemah sering kali menjadi korban. Pelakunya pun tidak hanya dari laki-laki dewasa. Tetapi bisa dari berbagai rentang umur. Dari anak-anak sampai yang sudah tua bahkan tergolong lansia. Lebih dari itu, pelecehan seksual bisa berubah menjadi tindakan kekerasan seksual.

Tipikal korban kekerasan seksual adalah orang yang dianggap lebih lemah daripada pelaku. Biasanya dalam kondisi, sendiri, tanpa pengawasan, lemah secara fisik maupun psikologis (misalnya, seorang istri atau anak perempuan yang merasa tergantung ekonominya pada suaminya atau ayahnya). Kekerasan seksual bahkan bisa menimpa orang yang tidak berjalan dengan baik akalnya. Bisa karena Gangguan Kejiwaan atau karena Disabilitas Mental. Orang-orang dengan situasi demikian bahkan menjadi lebih lemah dari “golongan lemah” yang disebutkan sebelumnya, yaitu wanita dan anak-anak. Karena ketika mereka mengalami gangguan kejiwaan maupun disabilitas mental akal mereka pun mengalami keterbatasan sehingga mereka dipandang lebih tidak mampu. Misalnya, lebih tidak mampu untuk melawan dan melaporkan. Tidak sedikit kemudian, wanita dengan gangguan kejiwaan maupun disabilitas mental yang kemudian harus mengandung anak dari tindakan kekerasan seksual yang dialaminya. Sehingga, korban tidak hanya dirinya tetapi juga calon anak. Karena besar kemungkinan anak tersebut akan menjadi anak terlantar. Pelaku pun merasa aman karena biasanya korban sulit untuk diajak berkomunikasi dengan baik.

Banyak penyebab terjadinya kekerasan seksual. Tetapi seringkali orang-orang menyalahkan pihak korban atas kekerasan yang terjadi. Orang-orang, bahkan tak jarang kita sendiri pun terlintas dalam pikiran kita, banyak menganggap apa yang menimpa korban adalah akibat dari apa yang dilakukan korban sendiri. Misalnya, korban berpakaian seperti apa sehingga memancing pelaku melakukan pelecehan terhadapnya. Atau mengapa korban pulang pada malam hari tanpa didampingi orang lain. Atau, bagaimana orang tua korban mendidik korban sehingga tidak bisa membela diri dari pelecehan seksual. Situasi demikian disebut victim blaming, menyalahkan tindakan yang terjadi pada karena keadaan korban sendiri. Peletakan kesalahan kepada korban itu bahkan lebih menyakitkan daripada tindakan kejahatan itu sendiri.

Kekerasan seksual bisa jadi didorong oleh desakan pemenuhan libido yang meluap yang dikarenakan rangsangan seksual pada saat itu, rata-rata modus dari tindakan kekerasan seksual karena pelaku merasa terangsang setelah melihat pornografi. Tentu saja kegiatan tersebut tidak

hanya dilakukan sekali dua kali. Ketika seseorang mengonsumsi film porno, sistem limbiknya aktif, yaitu sistem dalam otak yang mengatur dorongan hidup, yaitu emosi, kebutuhan makan dan minum, juga kebutuhan seksual. Dalam sistem limbik ini terdapat kelenjar yang memproduksi hormon dopamin. Efek dari sekresi hormon dopamin ini adalah perasaan senang. Semakin sering sistem limbik terpapar stimulus, kebutuhan akan produksi hormon dopamin semakin meningkat. Jika otak menangkap bahwa stimulus seksual yang diterima adalah stimulus yang dapat mendorong produksi hormon dopamin, otak akan memerintahkan lagi mencari stimulus serupa agar perasaan bahagia kembali dirasakan. Pada awalnya stimulus yang diterima hanya berupa visual (gambar tidak bergerak/ foto) maka kemudian dibutuhkan stimulus yang lebih lagi, audiovisual (video) bahkan juga yang memenuhi kebutuhan sensor sentuhannya (melakukan stimulasi seksual sendiri/ self stimulation bahkan hubungan seksual). Produksi dopamin pun dapat dirangsang dengan NAPZA.

Pada otak manusia terdapat satu bagian yang membedakan manusia dengan binatang. Yaitu bagian Pre Frontal Cortex (PFC) yang mempunyai peran memberi kontrol pada perilaku. Menilai baik dan buruk, memahami nilai agama dan moral, juga etika yang berlaku dalam lingkungan, menunda kepuasan, berpikir kritis, memikirkan masa depan, dan berkonsentrasi. PFC ini membentuk kepribadian seseorang. Ketika seseorang menghadapi sebuah pilihan, PFC ikut menentukan keputusan berdasarkan pertimbangan baik-buruk, etika, pemikiran kritis, penundaan kepuasan, dan tentang masa depan. Sayangnya, PFC sangat mudah mengalami kerusakan, dapat menyebabkan perilaku seseorang berubah. Kerusakannya dapat disebabkan benturan fisik maupun zat kimia (NAPZA) dan pornografi. Ketika otak dalam pengaruh candu pornografi, obat-obatan dan zat terlarang kemampuan kontrol PFC ini berkurang.  

Apabila dorongan pemenuhan kebutuhan seksual itu didampingi oleh nilai moral, agama dan etika yang tertanam dalam dirinya maka, seseorang dapat mengontrol kebutuhan tersebut. Sayangnya, ketika seseorang di dalam pengaruh obat-obatan maupun minuman keras sering kali nilai moral, agama dan etika sudah terlupakan. Sehingga yang muncul adalah urgensi untuk memenuhi kebutuhan seksualnya itu. Ketika kebutuhan seksual tidak bisa dipenuhi dengan jalan yang beretika, misalnya lewat pasangan yang sah, seseorang dapat memaksa pemenuhan kebutuhannya kepada orang lain sehingga terjadilah kekerasan seksual.

Tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki dewasa pun bisa didasari karena rasa inferioritasnya sebagai seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang inferior merasa untuk menunjukkan bahwa ia mampu dan mempunyai kuasa terhadap seseorang maka, ia perlu melakukan tindakan yang ia anggap sebagai perilaku superior, yaitu menggagahi seseorang yang ia anggap lebih lemah dari pada dirinya. Dalam motif ini, pasangan sah, suami istri pun bisa menjadi pelaku dan korban. Kekerasan seksual ini adalah ekspresi kejantanan dan kemampuan seks yang hendak ditunjukkan. Sebuah bahasa perilaku yang menunjukkan kuasa. Namun tentu saja adalah sesuatu yang salah. Sebuah kejahatan yang merusak fisik dan psikis seseorang, bahkan tidak jarang korban hancur masa depannya dan kehilangan nyawa.

Data statistik yang tercatat hanyalah seperti gunung es yang hanya tampak puncaknya saja. Banyak korban yang tidak terdata dan tidak melapor karena adanya stigma dari masyarakat terhadap korban kekerasan seksual, bahkan kecenderungan victim blaming yang tadi dibahas di awal. Selain itu, hukuman yang diberikan kepada pelaku pun dinilai belum memberikan efek jera, terlihat dari adanya tren peningkatan jumlah kasus kekerasan seksual. Memang, saat ini sudah disahkan Perppu tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak berkaitan dengan Penghapusan Kekerasan Seksual. Peraturan ini diharapkan bisa “membantu negara melakukan investigasi, menghukum dan merehabilitasi pelaku, serta memulihkan korban”. Salah satunya adalah mengenai diberlakukannya hukuman kebiri kimiawi bagi pelaku kekerasan seksual yang dinilai bisa membuat jera pelaku dan memberikan contoh pada lingkungan.

Sebagaimana teori Social Learning dari Albert Bandura bahwa perilaku seseorang tidak hanya didorong oleh reward dan punishment yang langsung ia terima, tetapi juga dengan melihat orang lain mendapatkan reward atau punishment. Jadi diharapkan ketika para pelaku kejahatan mendapatkan hukuman yang berat, maka orang lain yang mempunyai niat untuk melakukan kejahatan akan berpikir lebih panjang lagi untuk melaksanakan kejahatannya.

Penulis: 
Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi

Artikel

15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
1,701 kali dilihat
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
889 kali dilihat
22/03/2016 | Denny Kamajaya. S.sos
286 kali dilihat
06/06/2016 | Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
177 kali dilihat
24/04/2015 | Wuri Handayani, S.Psi
177 kali dilihat