Primary tabs

Bullying...pernik etalase era kini

Masih teringat oleh kita, SD, siswa SMA yang berkonvoi bersama teman-temannya menggunakan mobil bermuatan maksimal  5 orang dewasa merayakan selesainya ujian nasional yang selama beberapa hari sebelumnya diikutinya. Saat berkonvoi karena dinilai melakukan pelanggaran dengan menggunakan kendaraan secara ugal-ugalan dan melebihi muatan, mobil SD diberhentikan oleh Polwan yang sedang bertugas. Namun, pada saat sedang dimintai keterangan SD mengeluarkan kata-kata marah sambil menunjuk-nunjuk Polwan tersebut. Tidak lupa, SD pun menyebutkan nama salah seorang Jenderal Polisi, yang diakuinya sebagai ayahnya. Namun, belakangan baru diketahui nama tersebut adalah paman SD. Tingkah laku SD tersebut tersebar luas melalui media massa. Baik televisi, maupun internet.

Perkembangan teknologi komunikasi era ini membuat informasi dapat tersampaikan dengan cepat. Disertai juga dengan tanggapan dari para penerima informasi. Netizen, sebutan pengguna layanan informasi melalui internet, pun dapat memberikan tanggapan secara langsung, yang dapat ditanggapi pula oleh pemberi informasi. Munculnya kasus SD, menuai berbagai tanggapan dari netizen. Ada yang menasehati perilaku tidak sepatutnya itu, juga tidak sedikit yang melakukan pem-bully-an, dengan berkata-kata kasar, baik langsung kepada SD maupun menyinggung tentang cara orang tua SD mendidik anaknya.

Bully dalam bahasa Indonesia disebut penindasan, dapat termasuk di dalamnya berupa perkataan juga tindakan yang menyakitkan, menyudutkan, merendahkan, mengancam seseorang bahkan kekerasan emosional seperti tindakan mengacuhkan pun termasuk dalam tindakan bullying. Bullying yang terjadi di ranah internet disebut sebagai cyberbullying. Cyberbullying bahkan bisa lebih berbahaya karena korban dan pelaku bisa jadi tidak saling kenal, pelaku bullying bisa bersembunyi dalam anonimitas dan menjadi tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Tindakan bullying yang diterima SD memang tidak berdampak secara langsung kepada fisiknya, misalnya melukai dirinya, tetapi, perkataan kasar dari para netizen tentu saja melukai psikis SD dan ternyata tidak hanya SD tetapi juga ayah SD. Belakangan diketahui ayah SD jatuh sakit dan kemudian meninggal setelah terkena serangan jantung karena mendengar pemberitaan mengenai anaknya tersebut.

Terlepas dari bagaimana sang ayah mendidik SD, apa yang dialami ayah SD merupakan salah satu dampak dari tindakan bullying. Bahaya bullying terkadang memang dampaknya tidak tampak secara langsung. Banyak korban bullying yang memang bisa bertahan, tapi tidak jarang pula yang berakibat pada luka fisik bahkan kematian. Korban bullying yang tidak tahan lagi dapat melakukan tindakan bunuh diri. Dampak bullying pun ternyata bisa berakibat tidak langsung pada orang-orang di sekitar korban bullying. Orang-orang terdekat korban, seperti orang tua, saudara kandung, atau orang yang tinggal di sekitar korban, mungkin akan menjadi tempat pelampiasan emosi dari hasil bullying terhadap korban. Korban bisa jadi menarik diri di lingkungan terdekatnya atau bahkan malah bereaksi sebaliknya, menjadi agresif sebagai bentuk kompensasi dari tertekannya korban.

Walaupun tidak sedikit pula korban bullying yang bisa berjuang melawan pelaku dan bangkit, menjadikan tindakan bullying yang dialaminya sebagai bentuk motivasi bagi dirinya bahkan memberi nilai bagi orang lain. Sebagai contoh adalah Dedy Corbuzier, seorang selebritis yang sebelumnya dikenal sebagai mentalist. Dedy berhasil membawa pelaku bully terhadap dirinya dan anaknya yang diserang di internet ke media dan membuat pelaku meminta maaf bukan hanya untuk dirinya sebagai korban bully, tetapi juga kepada orang tua pelaku karena mempermalukan orang tuanya dengan tindakan yang dilakukannya. Tentu saja sebagai orang tua kita tidak mau anak kita menjadi korban maupun pelaku bully. Walaupun bisa jadi korban dan pelaku tidaklah selalu anak-anak, bisa saja sudah termasuk orang dewasa. Oleh karenanya, hendaklah kita menanamkan nilai-nilai yang melindungi anak kita sejak mereka kecil, agar terhindar dari tindakan bully baik sebagai korban maupun menjadi pelaku.

Korban bullying biasanya mempunyai karakter tertentu. Biasanya yang terlihat lemah, baik secara fisik ataupun psikis dan/ atau kemampuan komunikasi yang kurang baik, misalnya kurang asertif (tidak dapat menyampaikan pendapat dengan baik). Dalam cyberbullying, karakteristik korban biasanya adalah orang-orang yang dinilai tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di suatu daerah. Para pelaku bisa siapa saja yang merasa berhak untuk menghakimi korban yang dianggap melakukan “pelanggaran” terhadap suatu adat istiadat, budaya, norma, nilai yang ada. Bahkan terkadang hanya karena tindakan mereka di luar kebiasaan mayoritas. Misalnya, seperti Aurel Hermansyah yang menjalani ujian Paket C. Tidak sedikit yang mem-bully-nya karena dalam pandangan awam, ujian Paket C diambil untuk anak-anak putus sekolah yang tidak bisa mengikuti ujian reguler atau karena tidak lulus ujian reguler sehingga harus ikut ujian ulang lewat Paket C. Padahal, salah satu alasan mengikuti Paket C bisa jadi karena seseorang menjalani home schooling sehingga tidak bisa mengikuti ujian reguler. Orang tua perlu menekankan kepada anaknya, bahwa ia harus memiliki suatu sikap dan perilaku yang baik. Anak harus berani mengutarakan ketidaksukaannya ketika ia mengalami bullying, anak tidak perlu takut untuk melaporkan apa yang ia alami, jika perlu bekali anak dengan kemampuan bela diri. Tentu saja hal ini tidak berlaku jika ia mengalami cyberbullying. Anak perlu diingatkan bahwa semua tindakan yang ia lakukan mempunyai konsekuensi. Apa yang anak posting di internet akan mendapat tanggapan dari berbagai macam orang sehingga anak harus diajarkan berhati-hati dengan apa yang ia bagikan di media sosial.

Anak juga perlu ditanamkan nilai bahwa setiap manusia bisa memiliki kesalahan dan kekhilafan. Bukanlah tugas manusia untuk menghukum dan menghakimi. Orang tua perlu mengingatkan anak bahwa kekurangan fisik yang seseorang miliki berasal dari Penciptanya, sehingga itu tidak sepatutnya menjadi bahan olok-olokan. Ketidakmampuan seseorang di suatu bidang pun bukan hal yang patut dijadikan bahan candaan, karena setiap orang dianugerahi kelebihan yang berbeda-beda. Juga perlu ditekankan bahwa anak harus berhati-hati ketika berkaitan dengan tema SARA (Suku, Agama, Ras & Antar Golongan). Bahwa ia hendaknya mengakui bahwa semua suku, agama, ras dan antar golongan memiliki kekkhasannya masing-masing. Bahwa kebenaran bukanlah selalu mayoritas, tetapi kebenaran adalah sesuatu yang mutlak.

 
Penulis: 
Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi.
Sumber: 
berbagai sumber
File: 
AttachmentSize
is (1).jpg6.15 KB

Artikel

23/03/2018 | http://www.indonesiamediacenter.com/2017/10/indonesia-bicara-baik-perhumas-akan.html
27/12/2017 | wired Magazine
15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
1,973 kali dilihat
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
977 kali dilihat
22/03/2016 | Denny Kamajaya. S.sos
304 kali dilihat
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep
186 kali dilihat
06/06/2016 | Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
184 kali dilihat