Primary tabs

AUTIS pada ANAK

Penyandang autis menderita gangguan perilaku ataupun otak. Meskipun mereka tidak mampu bersosialisasi, tapi anak autis tidak bodoh. Mungkin kita bertanya-tanya bagaimana anak bisa mengidap autis, apa penyebabnya, bagaimana cirinya, dan apa cara terbaik yang harus dilakukan untuk menangani mereka (Dr. Hasdianah HR, 2013: 57).

Anak autis bukan anak ajaib atau pembawa hoki seperti kepercayaan sebagian orang tua. Akan tetapi mereka juga bukan pembawa aib atau bencana bagi keluarga. Jadi jangan mengharapkan keajaiban muncul dari mereka. Kehadirannya ditengah keluarga tidak akan merusak keharmonisan keluarga (D.S Prasetyono, 2008: 11).

Anak-anak yang menderita autis tampil seolah-olah mereka terbelenggu oleh pikiran mereka sendiri, sebab mereka tidak dapat mempelajari bahasa,atau keterampilan sosial yang dibutuhkan lingkungannya. Anak-anak autis pada tahun kedua dari kehidupan mereka biasanya kehilangan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang-orang dilingkungannya dan tidak berbicara, atau menggunakan bahasa, walaupun banyak diantara mereka mempunyai intelegensi yang normal. Anak autis lebih suka mnyendiri dan memiliki kegemaran dengan satu benda (Dr.dr. Y. Handojo, MPH, dikutip dari Uki Satriawan).

Keluarga merupakan unsur penting dalam perawatan anak mengingat anak bagian dari keluarga. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga, untuk itu keperawatan anak harus mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak (Wong, Perry dan Hockenberry, 2002 dalam Hidayat, A 2005).

Autisme berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan isme yang berarti aliran. Autisme berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri. Ada pula yang menyebutkan bahwa autisme adalah gangguan pekembangan yang mencakup bidang komunikasi, interaksi, dan prilaku. Gejalanya mulai tampak pada anak sebelum usia tiga tahun (E. Kosasih, 2012: 45).

Autisme adalah kelainan perkembangan sistem syaraf pada seseorang yang dialami sejak lahir ataupun sejak balita. Karakteristik yang menonjol pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal maupun memahami emosi serta perasaan orang lain. Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yag merupakan bagian dari kelainan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung gangguan perkembangan pervasive atau Pervasive Development Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehinngga menyebabkan otak tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandang autism (Wikipedia, 2 April 2014).

Autisme juga menjadi pencetus tingkat konsentrasi yang berbeda dan di atas rata-rata manusia normal dimana pengidap autisme mampu memecahkan masalah kompleks dengan rentang waktu yang singkat sebagaimana diangkat ke film layar lebar Mercury rising.

2. Penyebab Autisme

Faktor-faktor yang diduga kuat mencetuskan autisme

  1. Genetik, menurut National Institute of Health, keluarga yang memiliki satu anak autis memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autis. Penelitian pada anak kembar menemukan, jika salah satu anak autis kembarannya kemungkinan besar memiliki gangguan yang sama.
  2. Pestisida , paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme. Beberapa riset menemukan, pestisida akan mengganggu fungsi gen di sistem saraf pusat.
  3. Obat-obatan, bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan  memiliki resiko lebih besar mengalami autisme. Obat-obatan tersebut termasuk valproic dan thalidomide. Thalidomide adalah obat generasi lama yang dipakai untuk mengatasi gejala mual dan muntah selama kehamilan, kecemasan, serta insomnia. Valproic acid adalah obat yang dipakai untuk penderita gangguan mood dan bipolar disorder.
  4. Usia orang tua, perempuan yang melahirkan di usia 40 tahun memiliki resiko 50 persen memiliki anak autis dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun. Belum diketahui secara pasti hubungan usia dengan autisme, namun hal ini diduga karena terjadinya faktor mutasi gen.
  5. Perkembangan otak, ketidakseimbangan neurotransmitter seperti dopamine dan serotonin di otak juga dihubungkan dengan autis.
  6. Flu, wanita yang mengalami flu atau demam jangka panjang saat ia sedang hamil lebih beresiko untuk melahirkan anak autis.
  7. Merkuri, merupakan salah satu unsur kimia yang sangat berbahaya. Kehadiran merkuri dalam tubuh manusia menyebabkan berbagai efek negatif , denaturasi protein, inhibisi kerja enzim, gangguan biosintesa protein dan lemak, gangguan transport antar membran, gangguan pada sistem saraf pusat, merupakan sebagian efek yang ditimbulkan oleh merkuri (Dr. Hasdianah HR, 2013: 73).
  8. Menurut teori psikososial, autisme dianggap sebagai akibat hubungan yang dingin, tidak akrab antara orang tua dan anak. Demikian juga dikatakan, orang tua atau pengasuh yang emosional, kaku, obsesif, tidak hangat bahkan dingin dapat menyebabkan anak asuhnya menjadi autistik (Uki Satriawan, 2 April 2014).

3. Klasifikasi Anak Autisme

Klasifikasi anak autis dikelompokan menjadi tiga, antara lain (Uki Satriawan, 2 April 2014) :

  1. Autisme persepsi : dianggap autisme yang asli karena kelainan sudah timbul sebelum lahir. Ketidakmampuan anak berbahasa termasuk pada penyimpangan reaksi terhadap rangsangan dari luar, begitu juga ketidakmampuan anak bekerjasama dengan orang lain, sehingga anak bersikap masa bodoh.
  2.  Autisme reaksi : terjadi karena beberapa permasalahan yang menimbulkan kecemasan seperti orang tua meninggal, sakit berat, pindah rumah atau sekolah dan sebagainya. Autisme ini akan memunculkan gerakan-gerakan tertentu berulang-ulang disertai kejang-kejang. Gejala ini muncul pada usia lebih besar 6-7 tahun sebelum anak memasuki tahapan berpikir logistik. 
  3. Autisme yang timbul kemudian : terjadi setelah anak menginjak usia sekolah, dikarenakan kelainan jaringan otak, yang terjadi setelah anak lahir. Hal ini akan mempersulit dalam hal pemberian pelatihan dan pelayanan pendidikan untuk mengubah perilakunya yang sudah melekat.

4. Karakteristik Anak Autis

Anak yang mengalami autis sedikitnya memilik enam karakter, yakni sebagai berikut (E. Kosasih, 2012: 46) :

  1. Masalah dibidang komunikasi
  1. Kata yang digunakan terkadang tidak sesuai artinya.
  2. Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang.
  3. Berbicara tidak dipakai untuk alat komunikasi.
  4. Senang meniru kata-kata atau lagu tanpa mengetahui apa artinya.
  5. Senang menarik tangan orang lain untuk melakukan apa yang dia inginkan.
  6. Sebagian anak autistik tidak berbicra atau sedikit berbicara.
  7. Perkembangan bahasanya lambat/sama sekali tidak ada, tanpak seperti tuli atau sulit berbicara.
  1. Masalah dibidang interaksi sosial
  1. Suka menyendiri.
  2. Menghindari kontak mata.
  3. Tidak tertarik untuk bermain bersama.
  4. Menolak atau menjauh bila diajak bermain.
  1. Masalah dibidang sensoris
  1. Tidak peka terhadap sentuhan.
  2. Tidak peka terhadap rasa sakit.
  3. Langsung menutup  telinga bila mendengar suara keras.
  4. Senang mencium/menjilat benda-benda disekitarnya.
  1. Masalah dibidang pola bermain
  1. Tidak bermain seperti anak lain pada umumnya.
  2. Tidak bermain sesuai fungsi mainan.
  3. Sangat lekat dengan benda-benda tertentu.
  4. Senang terhadap benda-benda yang berputar.
  5. Tidak memiliki kreatifitas dan imajinasi.
  6. Tidak suka bermain dengan teman sebayanya.
  1. Masalah dibidang perilaku
  1. Dapat berperilaku berlebihan atau terlalu aktif,atau sebaliknya.
  2. Melakukan gerakan yang berulang-ulang.
  3. Tidak suka terhadap perubahan.
  4. Merangsang diri.
  5. Duduk bengong dengan tatapan kosong.
  1. Masalah dibidang emosi
  1. Sering marah, menangis, dan tertawa tanpa alasan.
  2. Kadang-kadang agresif dan merusak.
  3. Kadang menyakiti diri sendiri.
  4. Dapat mengamuk tanpa terkendali.
  5. Tidak memiliki empati.

5. Ciri-ciri Anak Autisme

                        Menurut American psychiatric Association dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition (DSM IV-TR, 2004), kriteria diagnostik untuk dari gangguan autistik adalah sebagai berikut. (Uki Satriawan, 2 April 2014):

  1. Kerusakan kualitatif dalam interaksi sosial, yang dimanifestasikan dengan setidak-tidaknya dua dari hal berikut :
  1. Kerusakan yang dapat ditandai dari penggunaan beberapa perilaku non verbal seperti tatapan langsung, ekspresi wajah, postur tubuh dan gestur utuk mengatur interaksi.
  2. Kegagalan untuk mengembangkan hubungan teman sebaya yang tepat menurut tahap perkembangan.
  3. Kekurangan dalam mencoba secara spontanitas untuk berbagi kesenangan, ketertarikan atau pencapain dengan orang lain (seperti dengan kurangnya menunjukan atau membawa objek ketertarikan.
  4. Kekurangan dalam timbal balik sosial atau emosional.
  1. Kerusakan kualitatif dalam komunikasi yang dimanifestasikan pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut :
  1. Penundaan dalam atau kekurangan penuh pada perkembangan bahasa (tidak disertai dengan usaha untuk menggantinya melalui beragam alternatif dari komunikasi, seperti gestur atau mimik )
  2. Pada individu dengan bicara yang cukup, kerusakan ditandai dengan kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.
  3. Penggunaan bahasa yang berulang-ulang dan berbentuk tetap atau bahasa yang aneh.
  4. Pengurangan divariasikan, dengan permainan berpura-pura spontan atau permainan imitasi sosial yang sesuai dengan tahapan perkembangan.
  1. Dibatasinya pola-pola perilaku yang berulang-ulang dan berbentuk tetap, ketertarikan dan aktivitas, yang dimanifestasikan pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut :
  1. Meliputi preokupasi dengan satu atau lebih pola ketertarikan yang berbentuk tetap dan terhalang, yang intensitas atau fokusnya abnormal.
  2. Ketidakfleksibilitasan pada rutinitas non fungsional atau ritual yang spesifik.
  3. Sikap motorik yang berbentuk tetap dan berulang, tepukan atau mengepakan tangan dan jari, atau pegerakan yang kompleks dari keseluruhan tubuh.
  4. Preokupasi yang tetap dengan bagian dari objek
  1. Fungsi yang tertunda atau abnormal setidak-tidaknya dalam satu area berikut, dengan permulaan terjadi pada usia 3 tahun :
  1. Interaksi sosial
  2. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial atau
  3. Permainan simbolik atau imajinatif.
  1. Gangguan tidak lebih baik bila dimasukan dalam Rett’s Disorder atau Childhood Disintegrative Disorder.

6. Terapi Bagi Anak Autisme

Ada beberapa macam jenis terapi sebagai tatalaksana autisme atau intervensi untuk anak autis. Jenis terapi yang diperlukan dan sesuai untuk tiap individu bisa berbeda-beda, tergantung keadaan masing-masing anak. Perlu diperhatikan bahwa kondisi setiap anak berbeda-beda mengingat autisme itu spektrum, sehingga tidak ada standar terapi yang cocok dan persis sama pada setiap anak. Sebagian anak autis mungkin ada yang memerlukan beberapa jenis terapi yang dilakukan secara terpadu, namun sebagian lagi tidak ( Prasetyono, 2008 ).

Beberapa jenis terapi autis antara lain:

  1. Terapi wicara : membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga membantu anak berbicara lebih baik.
  2. Terapi okupasi : untuk melatih motorik halus anak.
  3. Terapi bermain : mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain.
  4. Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy) : dengan pemberian

Obat-obatan oleh dokter yang berwenang.

  1. Terapi melalui makanan (diet therapy) : untuk anak-anak dengan masalah alergi makanan tertentu.
  2. Sensory Integration Therapy : untuk anak-anak yang mengalami gangguan pada sensorinya.
  3. Auditory Integration Therapy : agar pendengaran anak lebih sempurna.
  4. Biomedical treatment/therapy : penanganan biomedis yang paling mutakhir, melalui perbaikan kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphin, allergen dan sebagainya) (Laurens (2010), 28 April 2013).

Keberhasilan terapi tergantung beberapa faktor berikut :

  1. Berat ringannya gejala. Berhasil atau tidaknya terapi tergantung pada seberapa parahnya gangguan didalam sel otak.
  2. Semakin besar anak mendapat terapi, maka semakin besar kemungkinan penyembuhannya. Idealnya sejak umur 2-5 tahun, anak sudah lama diterapi. Karena, pada saat umur itulah sel otak mengalami pertumbuhan yang pesat, dan ini merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk merangsang sel-sel otak agar bisa tumbuh membentuk cabang-cabang neuron baru.
  3. Semakin banyak informasi yang ditangkap oleh anak, maka semakin besar peluangnya menjadi anak normal dan anak akan semakin cerdas serta cepat menangkap hal-hal yang diajarkan.
  4. Kemampuan berbicara dan berbahasa. Tidak semua penyandang autisme berhasil mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasanya. 20 % penyandang autisme tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan sisanya ada yang dapat berbicara lancar. Tentu saja mereka yang kemampuan berbicara dan berbahasanya baik akan lebih mudah diajari berkomunikasi. Anak autis yang tidak dapat berbicara (nonverbal) dapat diajarkan berbagai keterampilan komunikasi cara lain yaitu dengan mesin tik, gambar-gambar atau bahasa isyarat.
  5. Intensitas terapi. Semakin intensif anak autis mendapat terapi, maka akan semakin baik dan lebih besar mengalami kemajuan. Sedikitnya selama empat jam sehari anak harus mendapat terapi. Namun demikian, keberhasilan terapi autis juga tergantung pada dukungan seluruh keluarga (Prasetyono, 2008).
  1. Kesimpulan

Dengan mengerti apakah anak autis itu, diharapkan kita semua dapat mengidentiikasi secara dini anak, saudara dan anak-anak disekitar lingkungan sekitar kita sehingga anak-anak autis mendapatkan penangan secara dini dan pendidikan yang tepat untuk mereka. Semoga ilmu yang dibagikan dapat bermanfaat bagi kita semua amin.

Penulis: 
Denny Kamajay. S.Sos
Sumber: 
Wikipedia, dll
Tags: 
Musababah autis

Artikel

23/03/2018 | http://www.indonesiamediacenter.com/2017/10/indonesia-bicara-baik-perhumas-akan.html
27/12/2017 | wired Magazine
15/03/2016 | Wuri Handayani. S.Psi
1,973 kali dilihat
22/03/2016 | Dwi Ratna Lakitasari, S.Psi.
977 kali dilihat
22/03/2016 | Denny Kamajaya. S.sos
304 kali dilihat
14/12/2016 | MUSTIKAWATI, S.Kep
186 kali dilihat
06/06/2016 | Dwi Ratna Laksitasari, S.Psi
184 kali dilihat